makincrot.blogspot.com - Aku berdiri di trotoar jalan menunggu angkutan umum. Hari ini memang aku tidak naik motor karena motorku sedang ada di bengkel. Entah kenapa hari ini aku sial terus dari rumah pas mau kerja motorku mendadak ngadat tidak mau distater. Sial, mana hari ini aku pagi-pagi sekali harus sudah menyerahkan laporan bulanan kepada boss. Sial benar-benar sial.
Saat aku asik melamunkan kesialanku hari ini, tanpa sadar tiba-tiba sebuah Baleno warna silver metalik melintas di depanku dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba… “Craaassshh…!” air genangan menyemprot ke seluruh tubuhku, mukaku, baju, celanaku semuanya basah kuyup. Shiit, sekali lagi shiit, lengkap sudah kesialanku hari ini. Aku memaki-maki tidak karuan. Tiba-tiba Baleno itu berhenti beberapa puluh meter dari tempat aku berdiri dan langsung mundur menuju ke arahku. “Cari penyakit,” gerutuku. Aku sudah bersiap-siap mau mendampratnya jika orangnya keluar, paling tidak kumaki-maki dulu.
Urusan maaf-memaafkan belakangan. Aku sudah bersiap-siap ketika pintu Baleno itu terbuka, aku terkejut ketika sebuah kaki indah terbungkus sepatu kets menapak di aspal yang basah. Sesaat kemudian munculah mahluk yang menurutku sangat cantik. Tingginya kira-kira 165 cm, kulitnya putih, kalau ditaksir-taksir umurnya sekitar 35-an, tetapi penampilannya modis sehingga tidak terkesan dewasa, tapi yang paling menarik perhatianku adalah bentuk bodinya yang sangat proporsional, “Gitar Spanyol Cing”. Terbalut kaos ketat lengan cekak warna abu-abu dan legging warna hitam selutut menambah tonjolan-tonjolan tubuhnya semakin nampak nyata, sampai-sampai aku meneguk air liurku, “Glek.. glek,”.
“M.. ma’af Mas…” katanya menyadarkan aku dari kekagumanku.
“Oh oh… tidak pa.. pa..” sahutku (kok jadi aku yang gugup bathinku “).
“Maafkan saya Mas, saya tidak segaja.. lagi ngelamun jadi tidak sadar kalo ada orang,” ujarnya menjelaskan.
“Mas mau pulang..? tambahnya lagi.
“Ii.. iya…” jawabku.
“Oke.. sebagai pernyataan maaf saya, gimana kalo mas saya antar pulang. Ayo mari masukMas!” pintanya tanpa menunggu persetujuanku.
Wah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan nih.
“Bagaimana ya…” kataku.
“Please… ” katanya.
Tanpa ba bi bu lagi aku langsung masuk ke Balenonya yang langsung meluncur.
“Ngomong-ngomong dari tadi kita belum kenalan, saya.. Conny,” katanya memecah kekakuan.
“Saya Irwan, Mbak,” timpalku.
Ternyata Mbak Conny enak diajak ngomong tentang apa saja, orangnya supel. Dan sampai aku juga tahu bahwa ia adalah istri kedua dari salah seorang pengusaha sukses yang meninggal karena kecelakaan mobil setengah tahun lalu. Menurut dia suaminya dibunuh karena persaingan dengan seteru bisnisnya.
“Maaf Mbak, kalau saya mengingatkan,” kataku.
“Tidak.. papa Wan,” sahutnya.
“Wan kamu tidak papa kan ke rumah Mbak dulu. Mandi dulu ya, nanti setelah itu baru kita ke rumah kamu gimana?”
“Terserah Mbak deh,” kataku mengiyakan.
Kami tiba di rumahnya di salah satu kawasan pemukiman elit yang terkenal. Wah ternyata rumahnya cukup besar dan asri.
“Masuk Wan!”
“Makasih Mbak.”
.”Wan kamu mandi dulu ya,” katanya sambil menunjukkan kamar mandi.
“Nanti Mbak siapkan pakaian untukmu, kan baju sama celana kamu basah, biar di cuci di sini saja, Mbak juga mau mandi dulu.”
Kulepas semua pakaian sehingga sekarang aku sudah telanjang dan siap untuk mandi. Iseng aku mengingat Mbak Conny yang aduhai tanpa sadar “si Jonny” tiba-tiba mengeras. Aku membayangkan jika Mbak Conny mengatakan, “Wan, maukah menyenangkan Mbak?” Kurasakan “si Jonny” semakin keras seiring imajinasiku tentang Mbak Conny wajah cantiknya, kulit putihnya yang halus mulus tanpa cacat, dua gunung kembarnya yang ukuran 34 dan pantatnya yang besar. Kukocok-kocok batang kemaluanku, sementara khayalanku dengan Mbak Conny semakin menjadi-jadi, dan tiba-tiba “Cklok…” pintu dibuka, aku terkejut tanpa bisa berbuat apa-apa. Tadi aku lupa mengunci pintu kamar mandi, ternyata Mbak Conny sudah berdiri di hadapanku.
“Maaf Wan, aku lupa ngasih handuk ke kamu.”
“Oh iya Mbak,” kataku.
Mbak Conny tidak langsung pergi ia tertegun melihatku telanjang bulat dan sekilas kulihat ia melirik batang kemaluanku yang dari tadi sudah tegang. “Mbak mau mandi berdua denganku?” tanyaku asal. Mbak Conny tidak menolak dan juga tidak mengiyakan, naluri kelelakianku mulai jalan, kutarik lembut tangannya ke dalam dan kukunci pintu kamar mandi, tanpa menunggu reaksinya lebih lanjut kusentuh wajahnya dengan lembut, “Mbak cantik sekali,” aku mulai melancarkan rayuan, “Masa sih Wan, Mbak kan sudah 30 lebih, kamu bisa saja.”
Kucium pipinya dengan lembut lalu bergeser ke bibirnya yang seksi. “Wan!” keluhnya lirih, “Mbak saya sangat mengagumi Mbak,” bisikku lembut di telinganya, sambil kuletakkan tanganku melingkari lehernya. Kembali kukecup lembut bibirnya, kali ini dia membalas dengan hangat, beberapa saat adegan cium itu berlangsung, tanganku mulai “bergerilya”, kuusap punggungnya, terus turun ke bawah, ke bagian pantatnya, kurasakan bongkahannya masih sangat padat, kuremas-remas dengan lembut. Kali ini ia yang melingkarkan tangannya ke pinggangku, semakin erat, kurasakan gunung kembarnya menggencet dadaku kenyal dan lembut kurasakan.
Kami semakin bernafsu, batang kemaluan yang sudah dari tadi tegang tambah kurasakan berdenyut-denyut. Kurasakan aku semakin terangsang, segera saja kubuka baju mandi Mbak Conny. Terlihatlah pemandangan yang sangat indah, aku terdiam sejenak mengagumi keindahan tersebut, kulihat payudaranya yang besar dan masih kencang. Kutelusuri semua bagian tubuhnya tanpa ada bagian yang terlewatkan, sampai pada “area kenikmatan” Mbak Conny. Aku semakin terangsang karena pussy Mbak Conny mulus tanpa ditumbuhi bulu sedikitpun. Kali ini langsung kuserbu payudaranya, kuraba-raba sambil terus kissing sambil sesekali terdengar rintihannya, “Ohhh… Wan mhmmm…” kujilati kupingnya terus menjalar ke leher, dada, dan sampai ke payudaranya, kujilat, kumainkan putingnya dengan lidahku, aku semakin bernafsu.
“Waaan, ohhh…”
“Hmmm, Mbak… Mbak cantik sekali.”
Kali ini tangannya mulai kurasakan lebih aktif, dirabanya punggungku turus turun ke pantatku kemudian ke depan mencoba meraih batang kemaluanku dipegangnya dengan lembut, dikocoknya pelan-pelan sambil berkata, “Wan, punyamu lumayan besar juga. Mbak mau merasakannya Wan… ohhh,” kembali erangannya terdengar karena aku masih sibuk memainkan pentil payudaranya dengan ujung lidahku.
Mulai bosan dengan payudara, kuangkat badannya, kududukkan ke pinggir bak air. Kembali aku menjilati perutnya, kukukek-kucek liang pusatnya masih dengan ujung lidahku, terdengar kembali erangannya lebih keras, “Ooouhhh… hmmm… ahhh…” mungkin Mbak Conny sudah terangsang hebat. Keadaan ini tidak kubiarkan langsung kuarahkan lidah ku ke arah belahan pussy tanpa bulu yang indah sekali, tercium olehku bau khas kewanitaannya. Aku semakin bernafsu kujilati pussy Mbak Conny yang sudah mulai basah dengan lendir kumainkan ujung lidahku menelusuri setiap millimeter dari “benda enak gila” itu. Tubuh Mbak Conny semakin terguncang hebat menikmati permainan lidahku, nafasnya memburu, sudah tidak beraturan lagi sambil terus mengerang, “Oouuussshhh aaahhh,” merintih tidak karuan keenakan.
Ujung lidahku masih menempel pada benda enak milik Mbak Conny kali ini bagian terakhir yang akan kugarap. Benda sebesar biji kacang yang terletak di atas lubang pussy-nya. Hoooaah, hmmm hhhh ooouuhhh, Wan terus sayang terus… terus… Ouuhh uuhhh terus…” Kali ini Mbak Conny pasti hampir mencapai puncak gunung kenikmatannya, dan aku terus saja memainkan lidahku dengan ganas di liang pussy-nya yang semakin banjir oleh cairan kewanitaannya yang nikmat di lidahku. Sampai suatu saat ia menjabak rambutku, dan menekan kepalaku ke selangkangannya seakan-akan jangan sampai lepas. “Ooouuhn mmm ohhh.. ohhh, Wan terus Wan… Mbak mau keluarrhh…” sampai suatu sentakan hebat akibat kontraksi otot-otot badannya yang menegang. “Waaan Mbak keluaaar hhh…”
Beberapa saat badannya masih tersengal-sengal, sambil berkata padaku,
“Wan makasih, kamu hebat, Mbak sudah lama tidak merasakannya sejak suami Mbak meninggal.” “Sama-sama Mbak, saya juga sangat menikmatinya, saya suka sama Mbak,” ujarku.
“Kali ini giliran kamu ya, Wan. Sekarang kamu duduk di pinggir sini,” katanya.
Di kecupnya bibirku, dilumatnya, lidahnya sengaja dimasukkannya menjalari seluruh rongga mulutku sambil sesekali menghisap lidahku, kali ini aku sedikit tidak menguasai keadaan, tangan Mbak Conny masih terus memegang batang kemaluanku sambil terus mengocoknya,
“Ooohhh…” kali ini aku yang dibuatnya mengeluarkan suara keenakan.
Ah, lidahnya sudah hampir di puting susuku, dimainkannya lidahnya yang membuat sensasi tersendiri. “Aahhh… enak gila,” sambil terus mengocok batang kemaluanku. Mbak Conny terus menjilati bagian tubuhku sampai akhirnya dia menjilati kepala kemaluan. Dia terus memainkan lidahnya menjilati, kepalanya, batangnya, biji kemaluan tidak luput dari sasaran lidahnya. “Ahhh, Mbak… enak Mbak ahhh…” Mendengar rintihanku dia memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya, “Ooh… terus Mbak…” pintaku.
Turun-naik kepalanya mengisap batang kemaluanku sampai keadaan dimana aku merasakan kejang dan batang kemalaunku berdenyut-denyut sangat hebat, “Ooohhh… ohhh… aku hampir keluar Mbak…” Semakin ganas kepalanya turun-naik, semakin mempercepat kocokan dan sedotannya dan… “Crooot… crooot… croot…” batang kemaluanku memuntahkan sperma ke dalam mulut Mbak Conny dan dengan bernafsu ditelannya sperma tersebut dan sisanya dijilatnya sampai bersih.
“Makasih Mbak,” kataku.
“Sama-sama Wan,” katanya dengan lembut.
“Oke sekarang kita mandi dulu biar segar dan kita ulangi lagi nanti ya di kamar.”
Aku masih mengenakan handuk yang dililitkan ketika Mbak Conny datang membawa segelas susu coklat hangat dan memberikannya kepadaku.
“Minum dulu sayang, biar tambah segar.”
Kuseruput coklat hangat, “Aaahhh…” kurasakan kehangatan menjalari tubuhku dan kurasakan kesegaran kembali.
Kami berciuman kembali, Mbak Conny tampak sangat menikmati ciumanku ini, matanya terpejam, nafasnya mendesah, dan bibirnya dengan lembut mengecup sambil sesekali menghisap bibir dan lidahku, jari jemari lentik guruku itu mulai bergerak turun menyusup ke balik handukku menuju buah pantatku. Batang kemaluanku yang hanya ditutupi handuk kecil itu segera berdiri tegang. Bagian bawah kepala kemaluanku itupun langsung tergencet oleh perut Mbak Conny yang langsung menyalurkan getaran-getaran kenikmatan ke seluruh urat syarafku.
Jari-jemarinya mulai meraba kedua buah pantatku. Mula-mula rabaannya melingkar perlahan, makin cepat, makin cepat, sampai akhirnya dengan suara mendesah, diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Aku mencium dan menjilati telinga Mbak Conny, sehingga membuat tubuh janda cantik itu menggelinjang-gelinjang, “Ohhh Wan… gelii… sss…” Kuturunkan bibirku dari kuping menelusuri leher, terus turun ke dada, jari jemarinya pun terasa semakin keras meremas-remas pantatku.
Seraya mengecupi areal dadanya, jemariku membuka satu persatu kancing seragam kebanggaannya itu hingga terlihat belahan payudaranya yang besar menyembul dari balik baju mandinya. Bentuknya menghadap ke atas dengan puting yang langsung mengarah ke mukaku. Amboi seksinya, tanpa membuang waktu kulahap payudara itu dengan gemas. Kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang sudah menegang itu. Tiba-tiba tangan kanan Mbak Conny berputar ke arah depan. Dengan sekali sentak maka terjatuhlah penutup satu-satunya tubuhku itu.
Kulirik kaca lemarinya, di sana terlihat badan tegapku yang bugil tengah menunduk menghisap payudara wanita berbadan montok yang masih dibalut pakaian mandinya. Dari kaca riasnya kulihat Mbak Conny mengalihkan tangan kanannya ke arah selangkanganku dan… “Slepp!” dalam sekejap batang kemaluanku sudah berada dalam genggamannya. Dengan lembut dan penuh perasaan ia mulai mengocok batang kemaluanku ke atas.. ke bawah.. ke atas.. ke bawah. Uff… tak bisa kuceritakan nikmat yang kurasakan di selangkanganku itu. Apalagi ketika sesekali ia menghentikan kocokannya dan mengarahkan jempolnya ke urat yang terletak di bawah kepala batang kemaluanku.
“Aaahhh… Mbaak… aaahh…” aku hanya bisa mengerang keenakan seraya terus mengecup dan menjilati payudaranya. Tiba-tiba Mbak
Conny mendorong tubuhku hingga terduduk di atas ranjang busanya dan ia sendiri kemudian berlutut dihadapan selangkanganku. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap mataku dengan pandangan penuh nafsu.
Bersamaan dengan itu, ia menciumi kepala batang kemaluanku, kemudian menjilati lubang penisku yang sudah dipenuhi dengan cairan lengket berwarna bening. Tiba-tiba ia memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan apa yang kurasakan berikutnya adalah kenikmatan yang tak terlukiskan. Mbak Conny memasukkan dan mengeluarkan penisku di dalam mulutnya dengan gerakan yang cepat sambil menggoyang-goyangkan lidahnya sehingga menggesek urat bawah kepala penisku itu. “Aaahhh… ouuhhh… Mbak! aakh… ouhhh…” aku hanya bisa terduduk sambil mengerang nikmat dan Mbak Conny tampak begitu menikmati kemaluanku yang berada di dalam mulutnya, sampai-sampai ia memejamkan matanya.
Tangan kiriku kembali meremas-remas payudara Mbak Conny sedangkan tangan kananku menyentuh bagian bawah buah pantatnya.
“Mmmh.. mmmhh…emmhhh…” rintihnya sambil terus mengulum batang kemaluanku ketika kuraba-raba lubang kemaluannya. Mbak
Conny semakin memperkuat sedotannya sehingga memaksaku untuk semakin mengerang tak keruan, seakan tak mau kalah, kumasukkan tanganku ke selangkangannya dari arah perut, dan dengan mudah jemariku mencapai vagina yang sudah sangat basah itu.
Dalam 3 detik jariku menyentuh sebuah daging sebesar kacang yang sudah menonjol keluar di bagian atas vagina Mbak Conny, jari tengah dan telunjukku segera mengocok “kacangnya” dengan cepat. “Mmmhh.. mmmhhh… aaahhh…” Mbak Conny melepaskan penisku dari mulutnya untuk berteriak histeris menikmati kocokanku di klitorisnya.
Sekitar 5 menit kami saling mengocok, meremas, dan menghisap diikuti dengan gelinjangan dan jeritan-jeritan histeris, ketika tiba-tiba Mbak Conny menengadahkan mukanya ke arahku dan merintih, “Wan.. please sekarang…” Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya kuangkat tubuh janda cantik itu dari posisi berlututnya. Kusuruh dia meletakkan kedua tangannya di atas meja menghadap cermin rias sehingga Mbak Conny kini berada dalam posisi menungging. Tampak buah dadanya bergelayut seakan menantang untuk diperah. Kurenggangkan kedua kaki mulusnya, kugosok-gosokkan penisku di belahan pantatnya sebelum kuturunkan menelusuri tulang ekornya, anus dan kutempelkan di pintu belakang vaginanya.
Perlahan-lahan kusodokkan penisku ke dalam vagina kecil yang sudah sangat banjir itu, “Aaahhh…” Mbak Conny menggigit bibirnya menikmati senti demi senti penisku yang tengah memasuki vaginanya, semakin dalam kumasukkan batang kemaluanku dan semakin dalam… “Ooohhh Wan… ooohhh…” dan… “Aaaakhh…” jeritnya ketika dengan keras kusodokkan penisku sedalam-dalamnya di vagina janda cantik itu. Tampak janda cantik itu masih menggigit bibirnya menikmati besarnya batang kemaluanku yang terbenam penuh di dalam vaginanya. Dengan segera kupompakan kemaluanku dengan cepat dari arah belakang. Kutempelkan perut dan dadaku di punggung perempuan itu dan kedua tanganku dengan keras meremas-remas dan memelintir kedua puting buah dada Mbak Conny yang sudah sangat keras itu.
“Ohhh… ohh… ouuhhh…” Tiba-tiba Mbak Conny mengangkat kepala dan badannya ke arahku dengan menengok ke arah kiri dan menjulurkan lidahnya. Dengan cepat kusambut lidah yang menggairahkan itu dengan lidahku dan kami pun berciuman dengan posisi
Mbak Conny yang tetap membelakangiku. Karena ia menegakkan badannya, Mbak Conny menaikkan kaki kirinya ke atas meja riasnya untuk memudahkan aku terus menyodokkan batang kemaluanku.
Sambil terus melumat bibirnya dan menyodok, tanganku kembali meremas-remas kedua payudaranya. Tangan kiri Mbak Conny menjambak rambut di belakang kepalaku untuk mempererat tautan bibir kami. Ketiaknya menyebarkan wangi khas yang membuatku semakin bernafsu lagi. Tiba-tiba Mbak Conny merintih-rintih sambil terus mengulum lidahku. Tampak alisnya mengerut, wajahnya mengekspresikan seakan-akan kenikmatan yang amat sangat menjalari seluruh tubuhnya, ia dengan cepat membimbing tangan kananku yang masih asyik meremas payudaranya untuk kembali memainkan kacangnya.
Goyangan pinggulnya menjadi semakin cepat tak terkendali, dinding vagina mulai terasa berdenyut-denyut, tiba-tiba… “Aaahhh aaahhh oouuhhh… Wan… Mbak keluaaarrr… aaahhh…”
Malam itu beberapa kali aku dan Mbak Conny mengulangi “gulat gaya bebas” itu sampai akhirnya kami sama-sama tertidur kecapaian. Aku segera terbangun ketika menyadari ada seberkas sinar yang menerpa wajahku. Aku segera menyadari bahwa aku berada di rumah Mbak Conny. Dan ia sudah bangun dan tidak berada di kamar ini lagi, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 10.00 dan lagi-lagi… oh shiit, aku terlambat masuk kantor. Sial, lagi-lagi sial.
Saturday, June 30, 2018
Berawal Dari Bioskop
makincrot.blogspot.com - Suatu ketika saat di kos gak ada yang di kerjakan sungguh bete banget hati itu teman temanku aku telpon gak di angkat, ya sudahlah karena tempat kosku dengan Mall memakan waktu 10 menit jadi berencana pergi kesana saja barang kali dapat kenalan dan bisa di traktir hehe..karena memang dari tadi siang aku belum makan maka perutku jadi keroncongan.
Karena aku tidak membawa uang cash terpaksa deh menuju ke ATM center yang ada di mal. ATM bank ku panjang lagi antriannya, namanya butuh ya terpaksa antri deh. Tau2 aku ngerasa kaya ada yang niup tengkukku. Krena rambutku pendek, ya jelas tengkukku kliatan, barusan rambut pendek alus yang ada di tengkuku kaya berkibar kena tiupan, aku noleh, wah dibelakang aku ada lelaki guanteng bangetz deh, jadi lupa noleh nengok balik kedepan.
Si ganteng senyum ja melihat aku, aku tersipu disenyumi kaya gitu. “Tuh antriannya dah maju”. Aku tersadar kalo aku lagi ngantri di ATM dan didepanku dah maju. Buru2 aku maju sehingga si ganteng dibelakangku maju juga,
Dia kayanya sengaja deh mepet banget ke aku dan niup2 tengkukku lagi. Aku seneng aja diusilin gitu. Aku noleh, “enak ya semburan acnya sampe terasa ke tengkuk Anis”.
“O Anis toh namanya, nama yang cantik, tapi lebi cantik lagi orangnya.
Aku …. (dia nyebutin namanya, rasanya gak usah ditulis kan)”. “Trus Anis manggilnya apa, om kali ya”. “Boleh, aq memang dah umur (dia menyebut angka, late thirties lah
pokoknya). “Om ganteng deh”.
“Anis juga cantik en seksi”.
“Masak si om”.
“Iyalah, sexy banget”.
Aku saat itu pake kaos ketat warna pink dan jins yang juga ketat. Kaosku ngegantung sepinggang sehingga kalo aku gerak pinggangku kliatan, puserku juga. Aku senyum aja disanjung gitu.
“Anis mo nonton ya”.
“Iya, om juga?”
“Yuk, ditemenin bidadari cantik en sexy siapa yang nolak kan. Mo nonton apa?”
“Tu film yang baru diputer om”.
“ayuk deh”.
“Ni uang karcisnya, om yang ngantri ya. mumpung belon panjang antriannya”.
“Gak usahlah, pake uang aku aja”.
“Makasi deh om”.
Dia ngantri, seneng juga ketemu om yang mo nraktir nonton. Kayaknya mulai filmnya masi rada lama, jadi tinggal merayu minta ditraktir makan aja.
Setelah dia dapet karcisnya, dia malah yang ngajakin makan, “masi sejam lagi nih, Anis dah makan belon”.
“belon om”.
“Makan dulu yuk, ntar dangdutan lagi”.
“Kok dangdutan om”.
“Iya kalo kroncongan kan jadul banget”.
“Wah Anis malah dah diskoan”. Kami tertawa sambil menuju ke foodcourt.
“Mo makan apa Nis”.
“apa aja, Anis pemakan segala kok om”.
“Segala? termasuk sosis ya”. aku ngerti kemana arah bicaranya tapi aku
berlaga pilon ja. “Mangnya disini ada jual sosis ya om, gak pernah liat tu Anis”. Dia tertawa aja,
“jadi apa aja ya, ntar aku beliin, kudu dimakan lo”.
“Pastinya om, Anis nyari mejanya ya om”. Aku mencari meja yang masi kosong. Karena bukan weekend, foodcourtnya bisa dibilang sepi. Jadi aku nyari meja yang misah dari meja laennya ja.
Dia sudah slesei beli makanan en minumannya, megang nampan clingukan nyari dimana aku duduk. Aku berdiri dan melambai kearahnya. Dia melihat aku dan berjalan membawa
nampan menuju kearah meja dimana aku duduk. Mejanya ada payungnya sehingga rada tertutup.
“Wah gak ujan payungan neh, romantis bangetz”.
“Napa om gak suka ya, pindah deh ke meja tanpa payung”.
“O enggak, asik kok payungan ma bidadari”. Sambil makan kita ngobrol santai aja.
“Anis skola dimana?” Aku nyebutin skola aku.
“Masi muda banget tapi dah seksi gini ya”.
“Om suka kan”.
“Suka banget”.
“Om kerja dimana”. Gantian dia yang crita siapa dia, apa kerjanya.
“Trus dahkeluarga ya om”.
“udah, tapi gak tinggal disini, keluarga ada dikampung”.
“O jadi om pjka dong”.
“Paan tu pjka, prusahaan kreta api?”
“Pulang jumat kembali ahad”.
“Bisa aja kamu, sebulan palingsekali atau 2 kali pulangnya, lumayan jauh si”.
“Setor dong ya om”.
“setror paan”.
“Kalo om gak nyetor ntar jadi odol lagi”.
“Kok jadi odol”.
“Iya kalo gak dikluar2in kan bisa jadi odol didalem nantinya”, aku sengaja ngomong mulai vulgar.
“O gitu ya, dah lama ni gak dikluarin, katimbang jadi odol minta tolong Anis ja ya buat ngeluarin”.
Aku ganti ketawa, “enak aja”.
“Ya enak lah, ada yang mo ngeluarin masak gak enak, mau ya Nis”. aku jadi kerimpungan didesek gitu, aku diem aja, senyum.
Saat itu kami dah beres makan, “Om tinggal 10 menit neh”. “Iya deh, dah kenyangkan Anis”. aku ngangguk, aku digandengnya jalan menuju ke 21. Seeneng banget aku digandeng gitu, “Anis serasa pacar om deh”.
“Mau jadi pacarku, aku gak tersinggung lo”, katanya sambil memeluk pundakku. Aku manda aja dipeluk, toketku kugeserkan ke dadanya yang bidang sambil menyenderkan kepalaku ke pundaknya.
“Om, Anis suka deh om manjain kaya gini”.
“Kan dah jadi pacar aku”.
“Kapan jadiannya?”
“Barusan kan, toket kamu montok ya Nis”, bisiknya.
“Sok tau ah”. “Kerasa montoknya
kegeser dada aku”.
Karena bole bebas milih tempat duduk, kami duduk rada mojok, jauh dari penonton laennya. aku duduk mepet ke dia, tanganku kulingkarkan di tangannya, kembeli toket kugesekkan di tangannya, aku nyandarkan kepalaku dipundaknya.
Dia langsung mulai aksinya, dia mengelus pahaku yang terbalut jins ketat, karena kaen jins yang lumayan tebel, jadi gak terlalu krasa elusannya di pahaku. Dia menoleh ke arah aku, mendekatkan bibirnya kebibir aku. Aku memejamkan mata dan menengadahkan kepalaku, dia mencium bibirku pelan. Karena posisinya kagok, dia merangkul pundakku
sehingga ciuman kami menjadi lebi hot lagi, bibir saling membelit dan saling mengisap. Tangannya mulai mengusap dari arah perutku, pelan merambat keatas. Telapak tangannya memutari pinggiran tokedku dengan usapan. ujung telunjuknya menyentuh ke pentilku yang masi ketetutup kemeja dan braku.
Gak neken, cuma nyentuh. “Ehm..ooh..” aku melenguh pelan, aku membalas serangannya dengan mengelus selangkangannya, terasa keras
banget. “Dah ngaceng ya om”, bisikku.
“Dah dari tadi Nis”. Elusanku dibarengi dikit tekananmembuat dia yang melenguh,
“Nikmat Nis, jadi pengen dikeluarin”.
“Masak disini om”. “Iya ya, kudu nyari tempat neh buat ngeluarin ma kamu”. Remasan di tokedku juga meningkat, diremas dari arah bawah keatas, pelan tapi kuat. “Uuh..ooh..”, kembali aku yang melenguh.
Bibirku kemudian diciumnya. Lidah kami bergulat dalam mulutku dan saling memilin. Setelah dia melepaskan ciumannya, aku meraba ritsluiting celananya, kuturunkan pelan2, dia melonjorkan kakinya untk mempermudah aku membuka ritsluitingnya sampe kebawah,
Segera tanganku menyusup kebalik kemejanya, mencari bagian atas cdnya, kurogoh kedalam dan kenalan ma palkonnya yang dah keras banget, ukurannya juga gede banget. “Gede banget punya om”. “Mangnya Anis blon pernah kenalan ma yang segede ini ya”.
“Iya om, punya cowok Anis rasanya dah gede tapi om punya gede banget. Anis emut ya om”. Dia menoleh kiri kanan, gak da yang memperhatikan kami, palig juga yang laen juga lagi maen film ndiri lah.
Celananya kuturnkan dikit, dia mengangkat pantatnya untuk mempermudah aku menurunkan celananya, cdnya kuturnkan, terbebaslah kontolnya yang tegak kaya tugu monas, gak cuma gede tapi juga panjang. Kepalanya kuremes sambil kukocok2, membuat dia menggelinjang.
Aku menunduk dan mulai menjilati kepala kontolnya. Tangannya segera menyamber tokedku dan diremesnya dengan gemas. Aku jadi mengulum palkonnya dengan
keras dan cepat karena rangsangan di tokedku.
“Nis udahan dong, ntar kluar disini lo”, katanya sambil menegakkan tubuhku. Dia merapikan celananya kembali dan menutup ritsluitingnya. Tapi dia mo bales aku rupanya.
Dia menurunkan ritsluiting jinsku, menurunkan dikit, aku ganti mengangkat pantatku sehingga dia mudah melolosi jinsku , cukup sampe dia bisa bebas mengexplorasi selangkanganku. Tangannya segera menusup dari bagian atas cdku, mengelus2 jembutku dan terus turun kebawah.
“Aag…esh…oom..” aku makin mengerang ketika jarinya menyusup membelah bibir memekku. Jari tengahnya tepat berada ditengah bibir memekku, bergerak keatas mencari itilku, ditekan2. “aduh…om”, kembali aku mengerang keenakan.
Memekku dah basah banget, dia terus saja mengilik2 itilku dengan penuh semangat sampe aku menggelinjang karena nikmatnya, sampe akhirnya aku mengejang sambil mengerang agak keras. Baeknya sound system di bioskop keras sehingga gak da yang dengerlah erangan nikmatku.
“udah om…Anis dah nyampe”. Dia mengeluarkan tangannya dari cdku dan aku segera merapikan jinsku. “Baru pake jari ja dah nikmat gini ya om”.
“Palagi pake sosis ya Nis”.
“Om mo diemut ampe kluar?”
“Gak ah, ntar nyari tempat aja, mana asik disini kan”.
“Mangnya om mo bawa Anis kemana?” “Ke hotel yuk, gak apa kan”. Aku cuma senyum, memeluk tangannya dan menyenderkan kepalaku di bahunya. Kami dah gak perhatiin filmnya kaya apa karena sibuk maen film ndiri.
Selesai film kami keluar gedung.
“Gak apa kan Nis kalo kita ke hotel”. aku diem aja.
“Napa Anis malu ya dibawa ke hotel”. Aku masi terdiem. ”
Ya udah ketempatku aja ya, mau kan”. Aku ngangguk kali ini.
“Mangnya om tinggal dimana”.
“Dia apartment kantor”.
“wah asik banget om, kerja dikasi fasilitas apartment”.
“Kecil kok apartmentnya, tipe studio”.
“Paan tu om”. “Ya Cuma seruangan, kaya kamar hotel aja, cuma ada kamar mandi dan dapur kecil dan tempat jemur pakean”.
Mobilnya meluncur meninggalkan mal menuju ke apartmentnta.
“besok Anis kalo gak sekolah gak apa?”
“Gak om, besok kebetulan gak da kelas, ada rapat guru katanya”.
“Wah kita bisa asik dong sampe sore lagi”.
“Mangnya om gak kerja”.
“Itu mah gampang diatur, bilang aja aku langsung ketemu klien”.
“Iya klien yang namanya Anis”. “Iya mo kerja sama ma klien yang namanya Anis buat ngeluarin”. Kami tertawa. Sampe di apartmentnya. mobil langsung meluncur ke basement, dia markir mobilnya di lot parkir yang memang disediakan untuk mobilnya.
Kami bergandengan meninggalkan mobil menuju ke lift. Dia memijit nomor lantainya dan lift bergerak keatas. Aku menggelayut di tangannya. Dalam lift cuma ada kami berdua aja. Dia kemudian memeluk aku dari belakang, tangannya menelungkup diperutku. Aku menyenderkan kepalaku di dadanya yang bidang.
Dia mencium pipiku, aku menoleh, segera dia menyambar bibirku dengan gemas. Tangannya segera menyamber tokedku dan meremasnya dengan gemas juga. Terasa kontolnya yang dah mengejang menekan pantatku, dia dah napsu sekali rupanya. Kami masi tetap saling memagut bibir, Lidah kami saling menyentuh dan membelit.
“Ting tong”, bel berbunyi, lift brenti dan pintunya terbuka, segera kami melepaskan pelukan karena didepan pintu lift berdiri 2 orang. Aku dah gak peduli dengan pandangan curiga dari kedua orang tadi, dia juga menggandeng aku keluar lift dan menuju ke apartmentnya.
“Orang tadi pasti curiga liat kita pelukan ya om, om kenal ma orang itu”.
“Di apartment gini mana saling kenal sih Nis”, seing liat sih, tapi peduli amir”.
“Kok amir om”. “Iya amat kan lagi nyuci mobil di basement”, jawabnya sambil tertawa.
Apartmentnya bener2 mini, cuma ada ruang besar yang berisi sofa besar, meja makan, credenza dengan TV plasma dan audio systemnya, lemari pakean dengan kaca rias disalah satu daun pintu seblah luarnya, lemari es, dispenser aqua dan pantri kering.
Kulihat masi ada dapur yang juga mini, kamar mandi yang lumayan besar, ada bath tub, shower, wc dan meja riasnya dan mesin cuci pakean, serta pelataran untuk menjemur. Buat ndirian si cukup banget, berdua juga masi cukup.
“Kok gak da ranjangnya om”.
“Napa, Anis dah pengen gelut di ranjang ya”, jawabnya sambil menarik dudukan sofa besarnya sehingga dalam sekejab berubah menjadi ranjang ukuran King. Dia mengambil bantal dan seprei dari lemari pakeannya dan memasangkannya di ranjang sofa tadi.
“Tuh dah siap, gelut yuk”, katanya sambil memeluk aku.
“Mo pipis dulu om”, aku melepaskan diri dari pelukannya dan menuju ke kamar mandi untuk buang hajat kecil2an. Aku skalian cuci muka, membersihkan make up tipis yang kupoleskan kewajahku selon pergi dari kos, karena gak da cleaningnya ya pake air dan sabun saja, kugosok pelan dengan tisu, agak lama jadinya. Setelah bersih, kubasuh wajahku dengan air hangat dan kukeringkan dengan handuk tang tergantung di gantungan handuk.
Ketika aku keluar dari kamar mandi kulihat si om dah berbaring di ranjang hanya mengenakan CD ketat yang secara otomatis membentuk lekukan lekukan bentuk kontolnya. Aku melirik nakal kearah selangkangannya yang sudah tegang.
“Kamu kok gak lepas pakean skalian Nis”. Aku cuma senyum ja sambil membuka kemejaku dan jinsku. Di badanku tinggal menempel bra dan cdku. “Bener kan, sexy sekali kamu Nis, padahal masi abege gini”.
“Om demen banget sih muhji, ntar pala Anis jadi gede”. “Pala kamu gak bisa jadi gede, yang ada pala aku yang dah gede dari tadi”. aku cuma tertawa memandangi gelembung besar diselangkangannya yang masih tertutup cd.
Kelihatannya dia dah greget sekali ingin cepat cepat menerkam tubuh sintalku dan menindihinya di bawah tubuhnya. Aku berjalan menghampirinya. Kutatap seonggokan batang yang tersembunyi menantang di balik Cd yang dipakainya. Dengan posisi berdiri di sisi ranjang, mulai perlahan aku menjulurkan tangan kearah gundukan besar yang tersembunyi dibalik cdnya. Kuusap usap batang kontolnya seirama.
Naik… turun… yang terkadang kuselingi dengan pijatan kecil pada kantong pelir dan usapan halus di kepala kontolnya yang udah membengkak karena tegang dan keluar dari sisi atas CD yang dia pakai itu. Hati hati aku mulai menarik ke dua sisi atas CDnya, pelan pelan hingga membebaskan kontolnya yang sedari tadi ingin keluar.
Kugenggam batang kontolnya dengan tangan kanan dan mulai kumainkan batangnya sambil menaik turunkan tangannya di barengi jilatan jilatan kecil yang menyapu permukaan kepala kontol nya yang terlihat mengkilap membengkak karena rangsangan yang kuberikan lewat jilatan lidahku.
Lama lama semakin beringas aku melahap batang kontolnya hingga masuk semuanya ke dalam mulutku. Terasa sekali ujung batang kontolnya mneyentuh hingga kerongkonganku. Terkadang kugigit kecil pada helm surganya. Akibatnya geli seperti ingin kencing.
Erangannya akhirnya keluar juga setelah sekian lama dia tahan agar dia nikmatin dulu hal yang aku lakukan terhadap kontolnya. “Nis, nikmat banget si jilatan kamu…” katanya sambil mengusap usap paha putihku hingga pangkal pahaku.
Aku melepaskan emutanku karena sepertinya dia sudah mo mlanjutkan ke tahap brikutnya. Perlahan dia kecup bibir tipisku. Dengan lembut dia mengecup bibirku, perlahan disapunya setiap detail bibirku itu, lembut, halus, seperti makanan agar agar.
Perlahan aku menurunkan CD yang tadi hanya kuturunkan sepaha. aku kembali mengusap batang kontolnya yang menegang dengan keras. tangannya mulai mengusap lembut gunung kembarku yang membusung menantang untuk diremas oleh tangan perkasa. Aku melepaskan bra sehingga tokedku sekarang bebas untuk dia explorasi.
Pentilku yang merah kecil menantang ingin sesegera di hisap dan mungkin di gigit kecil. Sesaat langsung dia tarik tubuh mungilku ke dalam pelukannya. Dengan sigap dia hisap pentilku yang menantang dan ternyata telah mengeras sedari tadi. Aku tak ingin hanya aku seorang yang merasakan kenikmatan ini.
Kusambar batang kontolnya yang tegang mengacung tegak berdiri.Kukocok berirama naik turun dengan sangat lembut. “Uuuuhh….ssshhh… Nis… uuuuuhhh. Enak banget”, erangnya menikmati kocokanku di kontolnya. Aku juga menggeliat2 karena emutan di pentilku. “Om, nikmat banget deh, padahal baru diemut pentilku”, desahku tertahan.
Sekarang posisi aku dan si om seperti 69. Bra dan cdku sudah terlepas karena ulahnya. Posisi kepalanya sekarang adalah di bawah dengan posisi aku menhadapi kontolnya. kakiku sekarang mengapit kepalanya yang sedang melahap liang memekku.
Dengan kedua tangannya dia menahan pinggangku agar posisi memekku tetap di hadapannya. Sedangkan aku mengoral batang kontolnya dengan sangat lahap. Setiap kali lidahnya menyapu itilku, maka aku pasti mengapit kepalanya dengan keras, menahan sesuatu yang ingin keluar.
Dia gak perduli dengan apa yang aku rasakan. Maka dengan brutal dia buka liang memekku dengan lidahnya dan menyelipkan diantara kedua bibir memekku yang mengapit itilku. Sesekali dia sodok sodok dengan lidahnya yang menyentuh bagian yang paling sensitif ditubuhku.
“Uuuuhhhh… om ….. Anis gak tahan… mau kencing….Oooohhh…” desahku keenakan. Dia tahu aku hampir mencapai puncak. Maka dengan gerakan yang lebih kuat dia korek liang memekku dengan lidahnya yang bermain di dalam memekku.
Mengisap itilku. Mengigit kecil dan menarik itilku dan akhirnya…..”Oom….. oooohhhh. Anis gak tahan lagiiii. Aaaaakkkkhhhh”. Desahku dibarengi dengan sekujur tubuhku mengejang. Hingga akhirnya mengalir sejumlah cairan bening di sela sela bibir memekku yang montok itu.
Dengan sigap, aku jongkok tepat diselangkangannya. Kugenggam kont0l besarnya yang sangat keras itu. Aku mulai menilati lubang kencingnya, kutiup2 lubang kencingnya, sehingga dia menggelinjang kegelian.
Jilatanku meluas kearea palkonnya, leher palkonnya yang sangat sensitif tak luput dari jilatanku, kembali dia menggeliat2 keenakan. Jilatanku terus turun ke batangnya, ke biji pelernya. Biji pelernya kuisep pelan2 karena daerah itu sangat lemah sehingga kalo diemut keras2 akan terasa sakit, gak hanya ngilu.
Kuangkat biji pelernya keatas, jilatanku terus turun kebawah. Dia mengangkat kakinya keatas sehingga aku bisa menjilati daerah sensitif lainnya di kont0l lelaki adalah di lipatan antara dasar biji peler dan lobang pantatnya.
Daerah itu sangat sensitif, tidak hanya kujilat tapi kuemut pelan. Dia mengerang keenakan, “Nis, kamu pinter amir bikin aku keenakan, latihan ma cowok kamu terus ya Nis”. “He eh”, aku hanya bisa menggumanm karena aku sibuk menjilat dan mengemut daerah sensitif dibawah biji pelernya itu.
Kurasa cukup, kembali aku mengemut pelan biji pelernya, jilatannya naek ke batangnya dan berakhir lagi di lubang kencingnya, kukilik2 terus dengan ujunga lidahku. “Nis, emut kontolku dong”, pintanya. aku turuti permintaannya, kujilati palkonnya yang sudah membengkak itu, trus kumasukan palkonnya kedalam mulutku sembari lidahku terus saja menyerang lubang kencingnya.
Kuemut rada kuat palkonnya, pelan kukeluarkan dari mulutku dan langsung kumasukan lagi, berulang aku melakukannya, kuemut dengan keras sambil kukeluarkan, trus kumasukkan lagi. Dia makin menggeliat2 keenakan, “Nis, nikmat banget sepongan kamu”.
Pelan2 kuperdalam kontolnya masuk ke mulutku, karena panjangnya setengah saja sudah membuat tenggorokanku ke sodok2, sehingga aku pengen muntah, makanya kumasukan kedalam mulutku sampe batas aku nyaman saja.
Mulai kuemut keras sambil kukeluarkan dari mulut, kemudian aku masukan lagi kedalam mulutku sampe kebatas kenyamananku. Aku menandai batas itu dengan menggenggam kontolnya. Berulang kali kulakukan emutan seperti itu, dia menjambak rambutku sembari membantu menekan kepalaku agar makin cepat mengeluar masukkan kontolnya dalam mulutku.
Kemudian aku mengganti dengan mengocok kontolnya. Pangkal kontolnya kupijit dengan tangan kiri sedang tangan kanan mengocok kontolnya turun naek, keras banget kerasnya ngacengnya kontolnya.
Dia gak mau nganggur, dengan tangan sebelah kiri dia remas toketku.
“Trus Nis, kocok terus. skali2 diisep lagi Nis, Jilat…. enak…sshh…. sempit banget mulut kamu Nis…sssshhhhh”. Dia minta aku untuk makin meningkatan kegiatanku, kocokan tangan diselingi emutan mulut.
Akhirnya dia gak bisa menahan rangsangan yang ditimbulkan akibat kocokan dan emutanku yang dahsyat (bukan dahsyatnya stasiun tv lo) dan…Crooot…. crooot….muntah juga lahar panas berwarna putih memenuhi rongga mulutku.
Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan mulut dari bekas muntahan pejunya yang hampir memenuhi seluruh ruang didalam mulutku. Entah setan apa yang datang. Ketika melihat aku yang sedang menungging membersihkan mulut, napsunya kembali bergejolak ketika melihat lipatan daging yang terhimpit antara pahaku yang montok putih merangsang.
Sekejap langsung dia jongkok di belakangku tepat di bawah pantatku yang bulat itu. kemudian mulai menjilat liang memekku yang tadi mengodanya untuk kembali dijamah lagi.
“Om, Anis kan lagi bersihin mulut nih… ssssshhhh….nanti dulu dong. Uuuuuhhh….” ujarku yang masih dengan posisi menungging membelakangi dia. Tanpa menghiraukan aku berkata apa dia terus menjilati liang memekku.
“Nis aku masukin kontolku ke mem3k kamu dari belakang ya”, pintanya dengan mengambil posisi doggie style. Gak da matinya ni orang, baru ja ngecret dimulutku dah ngaceng lagi karena ngejilatin memekku. Dia suruh aku memegang wastafel di hadapanku dan merenggangkan kedua kakiku agak lebar.
Dengan tangan sebelah kanan mengenggam batang kontolnya, dia mengesek gesekkan palkonnya pada bibir memekku. perlahan lahan dengan dibantu cairan yang keluar dari sela sela memekku, kontolnya mulai menerobos masuk. Pelan dia mendorong kontolnya hingga membuat kedua bibir memekku ikut tertekan kedalam.
Terasa sekali ketika benda tumpul berurat hendak memaksa masuk kedalam liang memekku yang baru pertama kali kenalan dengan kont0l extra large seperti si om punya. Dengan susah payah, akhirnya palkonnya berhasil masuk. Perlahan dia tekan kembali dengan sedikit keras dan tangan kirinya memeras toketku yang putih serta pentilku yang mengeras meruncing ke depan.
“Tahan ya Nis… ini hanya pertamanya saja seret. Nanti setelah kontolku masuk ke dalam mem3k kamu kamu akan ngerasain kenikmatan yang belon pernah kamu dapet dari cowok kamu”. Aku tak menjawab, hanya menganggukkan kepala dan sesekali menatap ke arahnya yang sekarang akan mengentotin aku lebih lanjut.
Kontolnya menyelinap makin dalam, memekku menganga selebar mungkin supaya dapat menelan kontol besarnya yang mengisi seluruh relung memekku sampe rasanya gak da lagi tempat yang tersisa, penuh banget rasanya memekku keisi kontol besarnya.
Pelan pelan dia tarik batang kontolnya hanya menyisakan setengahnya di dalam dan kembali menekan batang kontolnya masuk kedalam lagi. Dia lakukan berkali kali biar memekku akhirnya bisa menyesuai benda asing yang menganjal di tengah tengah rongga sempit itu. selama 3 menit lebih dia lakukan pengadaptasian di memekku Rini.
Aku mulai mendesah, rasa nikmat mulai menderaku ketika pelan dia mulai mengeluark-masukkan kontolnya di memekku. “Gimana Nis?” “Nikmat om, agak lebih cepat dan agak keras dong tekannya. Enak… sekarang enak sekali om”.
Dia mempercepat sodokan kontolnya ke dalam memekku, yang seirama dengan goyanganku yang mendorong pantatku yang putih bulat itu ke belakang. Sodokan demi sodokan dia pompa terus menerus ke memekku. terasa sekali batang kontolnya menggesek dinding dalam memekku, jelas menimbulkan rasa ngilu yang begitu amat sangat nikmatnya. Semakin lama dia percepat irama pompaan kontolnya yang diiringi desahan hausku, “uuuuhhh…. ssshhhh…. om. Lagi om. Lebih keras,” pintaku.
Mungkin karena merasa terkuras tenaganya, akhirnya dia minta aku untuk mengubah posisi ngentotnya. Dia gendong aku merapat ke dinding. kedua tanganku melingkar di lehernya. Kedua kakiku melingkar dipinggangnya seperti anak kecil yang sedang ingin memanjat pohon.
Dengan cepat aku meraih batang kontolnya dan menusukkan kembali ke dalam liang memekku. Aku tak mau sampai kenikmatan yang tadi aku rasakan terputus sebelum aku mencapai puncak kenikmatannya yang selanjutnya. Dengan gaya mengendong aku, dia berjalan menuju ke dalam kamar.
Dia merebahkan tubuh mungilku yang mengiurkan itu di atas ranjang. Dia berusaha untuk tidak merubah posisi keberadaan kontolnya yang sudah menancap didalam memekku. Dia mengangkat kedua kakiku dan menaruhkannya di atas bahunya, membuat dia lebih leluasa mengeluar-masukkan kontolnya dalam memekku.
“Eeehhhhmmm… eeehhhhmm…. enak gak Nis kalau aku sodok memek kamu kayak gini”, tanyanya, sementara aku dalam posisi setengah tertindih oleh badannya. aku hanya menatapnya yang sedang memompa memekku sambil mengigit tipis bibir bawahku yang mungil.
Aku menganggukkan kepala dan mengusap usapkan kedua tanganku pada dadanya yang bidang. ekspresi mukaku yang menunjukkan aku sedang kenikmatan membuat dia makin terangsang banget. Saat dia hentakin dengan keras batang kontolnya ke dalam liang memekku, bibir mungilku membuka sedikit. “Nis… mem3k kamu memang sungguh nikmat sekali”. Aku menatap dia yang masih terus memompa memekku dengan cepat.
Selang beberapa menit aku meminta agar merubah posisi ngent0t menjadi women on top. Alasanku supaya aku lebih menikmati bila liang memekku ditikam oleh kontolnya dari bawah. Sensasi yang aku rasakan lebih nikmat dibandingkan dengan gaya sebelumnya.
Perlahan dia merubah posisi kembali. Namun kali ini terpaksa harus mencabut terlebih dahulu kontolnya yang sudah tertancap di memekku. Dengan berirama aku mengoyangkan pantatku yang bulat indah itu maju mundur, layaknya seseorang yang sedang naik kuda pacuan. Terasa sekali kontolnya mengaduk seluruh liang memekku.
Terkadang gerakanku maju mundur, terkadang berputar putar seperti goyangan Inul daratista yang sedang goyang ngebor.
“Nis…. nikmat banget. Trusss Nis. Jangan berhenti.” Terasa kontolnya makin membengkak, pertanda sebentar lagi dia akan ngecret lagi.
“Gila enak banget, mem3k kamu Nis, Uuuuhhh… trus… Nis”.
“Om, Anis mau…. mmmmauu…. sssssshhh…. ooom…. oooooohhh…. kkllluar”, desahku ngasi tau dia kalo aku juga mo klimax.
“Nis… tahan sebentar lagi… seddiiikkit lagi. Kita keluarin sama samma yah….uuuhh.” Semakin kencang aku ngegoyang pantatku. Dan akhirnya….”Aaakkkhhh….. ooom”, teriakku sambil merebahkan tubuhku yang lemas terkuras di atas tubuhnya dengan posisi batang kontolnya yang masih menancap didalam memekku.
Karena aku tak mampu menahan dorongan napsuku akhirnya aku mencapai puncaknya terlebih dahulu. Dengan kencang dia hujam kontolnya semakin cepat ke dalam memekku. Tanpa memperdulikan tubuhku yang sudah terbujur lemas di atas badannya, sampai akhirnya,
Crooot…. Croot, pejunya muncrat semuanya didalam memekku. Hebatnya walaupun tadi dah ngecret dimulutku, kali ini tetep ja pejunya banyak ngecretnya hingga tak tertempung di memekku. Pejunya mengalir melalui sela sela bibir memekku yang montok itu.
Tanpa mencabut kontolnya yang masih menancap di memekku, aku merebahkan badanku yang lemas terkuras karena pertempuran yang membawa kenikmatan ini diatas badannya.
“Om, nikmat banget deh dientot ma om”.
“Kamu suka kontolku Nis”.
“Bangetz”.
“jadi boleh dong sering2 aku ngentotin kamu”.
“Bangetz om, kontak Anis ja om kalo om pengen ngentotin Anis lagi”. Kami melakukannnya berkali2 sampe waktu cek out besoknya, sungguh nikmat dientot ma om yang perkasa gitu walaupun aku jadinya lemes buanget.
Karena aku tidak membawa uang cash terpaksa deh menuju ke ATM center yang ada di mal. ATM bank ku panjang lagi antriannya, namanya butuh ya terpaksa antri deh. Tau2 aku ngerasa kaya ada yang niup tengkukku. Krena rambutku pendek, ya jelas tengkukku kliatan, barusan rambut pendek alus yang ada di tengkuku kaya berkibar kena tiupan, aku noleh, wah dibelakang aku ada lelaki guanteng bangetz deh, jadi lupa noleh nengok balik kedepan.
Si ganteng senyum ja melihat aku, aku tersipu disenyumi kaya gitu. “Tuh antriannya dah maju”. Aku tersadar kalo aku lagi ngantri di ATM dan didepanku dah maju. Buru2 aku maju sehingga si ganteng dibelakangku maju juga,
Dia kayanya sengaja deh mepet banget ke aku dan niup2 tengkukku lagi. Aku seneng aja diusilin gitu. Aku noleh, “enak ya semburan acnya sampe terasa ke tengkuk Anis”.
“O Anis toh namanya, nama yang cantik, tapi lebi cantik lagi orangnya.
Aku …. (dia nyebutin namanya, rasanya gak usah ditulis kan)”. “Trus Anis manggilnya apa, om kali ya”. “Boleh, aq memang dah umur (dia menyebut angka, late thirties lah
pokoknya). “Om ganteng deh”.
“Anis juga cantik en seksi”.
“Masak si om”.
“Iyalah, sexy banget”.
Aku saat itu pake kaos ketat warna pink dan jins yang juga ketat. Kaosku ngegantung sepinggang sehingga kalo aku gerak pinggangku kliatan, puserku juga. Aku senyum aja disanjung gitu.
“Anis mo nonton ya”.
“Iya, om juga?”
“Yuk, ditemenin bidadari cantik en sexy siapa yang nolak kan. Mo nonton apa?”
“Tu film yang baru diputer om”.
“ayuk deh”.
“Ni uang karcisnya, om yang ngantri ya. mumpung belon panjang antriannya”.
“Gak usahlah, pake uang aku aja”.
“Makasi deh om”.
Dia ngantri, seneng juga ketemu om yang mo nraktir nonton. Kayaknya mulai filmnya masi rada lama, jadi tinggal merayu minta ditraktir makan aja.
Setelah dia dapet karcisnya, dia malah yang ngajakin makan, “masi sejam lagi nih, Anis dah makan belon”.
“belon om”.
“Makan dulu yuk, ntar dangdutan lagi”.
“Kok dangdutan om”.
“Iya kalo kroncongan kan jadul banget”.
“Wah Anis malah dah diskoan”. Kami tertawa sambil menuju ke foodcourt.
“Mo makan apa Nis”.
“apa aja, Anis pemakan segala kok om”.
“Segala? termasuk sosis ya”. aku ngerti kemana arah bicaranya tapi aku
berlaga pilon ja. “Mangnya disini ada jual sosis ya om, gak pernah liat tu Anis”. Dia tertawa aja,
“jadi apa aja ya, ntar aku beliin, kudu dimakan lo”.
“Pastinya om, Anis nyari mejanya ya om”. Aku mencari meja yang masi kosong. Karena bukan weekend, foodcourtnya bisa dibilang sepi. Jadi aku nyari meja yang misah dari meja laennya ja.
Dia sudah slesei beli makanan en minumannya, megang nampan clingukan nyari dimana aku duduk. Aku berdiri dan melambai kearahnya. Dia melihat aku dan berjalan membawa
nampan menuju kearah meja dimana aku duduk. Mejanya ada payungnya sehingga rada tertutup.
“Wah gak ujan payungan neh, romantis bangetz”.
“Napa om gak suka ya, pindah deh ke meja tanpa payung”.
“O enggak, asik kok payungan ma bidadari”. Sambil makan kita ngobrol santai aja.
“Anis skola dimana?” Aku nyebutin skola aku.
“Masi muda banget tapi dah seksi gini ya”.
“Om suka kan”.
“Suka banget”.
“Om kerja dimana”. Gantian dia yang crita siapa dia, apa kerjanya.
“Trus dahkeluarga ya om”.
“udah, tapi gak tinggal disini, keluarga ada dikampung”.
“O jadi om pjka dong”.
“Paan tu pjka, prusahaan kreta api?”
“Pulang jumat kembali ahad”.
“Bisa aja kamu, sebulan palingsekali atau 2 kali pulangnya, lumayan jauh si”.
“Setor dong ya om”.
“setror paan”.
“Kalo om gak nyetor ntar jadi odol lagi”.
“Kok jadi odol”.
“Iya kalo gak dikluar2in kan bisa jadi odol didalem nantinya”, aku sengaja ngomong mulai vulgar.
“O gitu ya, dah lama ni gak dikluarin, katimbang jadi odol minta tolong Anis ja ya buat ngeluarin”.
Aku ganti ketawa, “enak aja”.
“Ya enak lah, ada yang mo ngeluarin masak gak enak, mau ya Nis”. aku jadi kerimpungan didesek gitu, aku diem aja, senyum.
Saat itu kami dah beres makan, “Om tinggal 10 menit neh”. “Iya deh, dah kenyangkan Anis”. aku ngangguk, aku digandengnya jalan menuju ke 21. Seeneng banget aku digandeng gitu, “Anis serasa pacar om deh”.
“Mau jadi pacarku, aku gak tersinggung lo”, katanya sambil memeluk pundakku. Aku manda aja dipeluk, toketku kugeserkan ke dadanya yang bidang sambil menyenderkan kepalaku ke pundaknya.
“Om, Anis suka deh om manjain kaya gini”.
“Kan dah jadi pacar aku”.
“Kapan jadiannya?”
“Barusan kan, toket kamu montok ya Nis”, bisiknya.
“Sok tau ah”. “Kerasa montoknya
kegeser dada aku”.
Karena bole bebas milih tempat duduk, kami duduk rada mojok, jauh dari penonton laennya. aku duduk mepet ke dia, tanganku kulingkarkan di tangannya, kembeli toket kugesekkan di tangannya, aku nyandarkan kepalaku dipundaknya.
Dia langsung mulai aksinya, dia mengelus pahaku yang terbalut jins ketat, karena kaen jins yang lumayan tebel, jadi gak terlalu krasa elusannya di pahaku. Dia menoleh ke arah aku, mendekatkan bibirnya kebibir aku. Aku memejamkan mata dan menengadahkan kepalaku, dia mencium bibirku pelan. Karena posisinya kagok, dia merangkul pundakku
sehingga ciuman kami menjadi lebi hot lagi, bibir saling membelit dan saling mengisap. Tangannya mulai mengusap dari arah perutku, pelan merambat keatas. Telapak tangannya memutari pinggiran tokedku dengan usapan. ujung telunjuknya menyentuh ke pentilku yang masi ketetutup kemeja dan braku.
Gak neken, cuma nyentuh. “Ehm..ooh..” aku melenguh pelan, aku membalas serangannya dengan mengelus selangkangannya, terasa keras
banget. “Dah ngaceng ya om”, bisikku.
“Dah dari tadi Nis”. Elusanku dibarengi dikit tekananmembuat dia yang melenguh,
“Nikmat Nis, jadi pengen dikeluarin”.
“Masak disini om”. “Iya ya, kudu nyari tempat neh buat ngeluarin ma kamu”. Remasan di tokedku juga meningkat, diremas dari arah bawah keatas, pelan tapi kuat. “Uuh..ooh..”, kembali aku yang melenguh.
Bibirku kemudian diciumnya. Lidah kami bergulat dalam mulutku dan saling memilin. Setelah dia melepaskan ciumannya, aku meraba ritsluiting celananya, kuturunkan pelan2, dia melonjorkan kakinya untk mempermudah aku membuka ritsluitingnya sampe kebawah,
Segera tanganku menyusup kebalik kemejanya, mencari bagian atas cdnya, kurogoh kedalam dan kenalan ma palkonnya yang dah keras banget, ukurannya juga gede banget. “Gede banget punya om”. “Mangnya Anis blon pernah kenalan ma yang segede ini ya”.
“Iya om, punya cowok Anis rasanya dah gede tapi om punya gede banget. Anis emut ya om”. Dia menoleh kiri kanan, gak da yang memperhatikan kami, palig juga yang laen juga lagi maen film ndiri lah.
Celananya kuturnkan dikit, dia mengangkat pantatnya untuk mempermudah aku menurunkan celananya, cdnya kuturnkan, terbebaslah kontolnya yang tegak kaya tugu monas, gak cuma gede tapi juga panjang. Kepalanya kuremes sambil kukocok2, membuat dia menggelinjang.
Aku menunduk dan mulai menjilati kepala kontolnya. Tangannya segera menyamber tokedku dan diremesnya dengan gemas. Aku jadi mengulum palkonnya dengan
keras dan cepat karena rangsangan di tokedku.
“Nis udahan dong, ntar kluar disini lo”, katanya sambil menegakkan tubuhku. Dia merapikan celananya kembali dan menutup ritsluitingnya. Tapi dia mo bales aku rupanya.
Dia menurunkan ritsluiting jinsku, menurunkan dikit, aku ganti mengangkat pantatku sehingga dia mudah melolosi jinsku , cukup sampe dia bisa bebas mengexplorasi selangkanganku. Tangannya segera menusup dari bagian atas cdku, mengelus2 jembutku dan terus turun kebawah.
“Aag…esh…oom..” aku makin mengerang ketika jarinya menyusup membelah bibir memekku. Jari tengahnya tepat berada ditengah bibir memekku, bergerak keatas mencari itilku, ditekan2. “aduh…om”, kembali aku mengerang keenakan.
Memekku dah basah banget, dia terus saja mengilik2 itilku dengan penuh semangat sampe aku menggelinjang karena nikmatnya, sampe akhirnya aku mengejang sambil mengerang agak keras. Baeknya sound system di bioskop keras sehingga gak da yang dengerlah erangan nikmatku.
“udah om…Anis dah nyampe”. Dia mengeluarkan tangannya dari cdku dan aku segera merapikan jinsku. “Baru pake jari ja dah nikmat gini ya om”.
“Palagi pake sosis ya Nis”.
“Om mo diemut ampe kluar?”
“Gak ah, ntar nyari tempat aja, mana asik disini kan”.
“Mangnya om mo bawa Anis kemana?” “Ke hotel yuk, gak apa kan”. Aku cuma senyum, memeluk tangannya dan menyenderkan kepalaku di bahunya. Kami dah gak perhatiin filmnya kaya apa karena sibuk maen film ndiri.
Selesai film kami keluar gedung.
“Gak apa kan Nis kalo kita ke hotel”. aku diem aja.
“Napa Anis malu ya dibawa ke hotel”. Aku masi terdiem. ”
Ya udah ketempatku aja ya, mau kan”. Aku ngangguk kali ini.
“Mangnya om tinggal dimana”.
“Dia apartment kantor”.
“wah asik banget om, kerja dikasi fasilitas apartment”.
“Kecil kok apartmentnya, tipe studio”.
“Paan tu om”. “Ya Cuma seruangan, kaya kamar hotel aja, cuma ada kamar mandi dan dapur kecil dan tempat jemur pakean”.
Mobilnya meluncur meninggalkan mal menuju ke apartmentnta.
“besok Anis kalo gak sekolah gak apa?”
“Gak om, besok kebetulan gak da kelas, ada rapat guru katanya”.
“Wah kita bisa asik dong sampe sore lagi”.
“Mangnya om gak kerja”.
“Itu mah gampang diatur, bilang aja aku langsung ketemu klien”.
“Iya klien yang namanya Anis”. “Iya mo kerja sama ma klien yang namanya Anis buat ngeluarin”. Kami tertawa. Sampe di apartmentnya. mobil langsung meluncur ke basement, dia markir mobilnya di lot parkir yang memang disediakan untuk mobilnya.
Kami bergandengan meninggalkan mobil menuju ke lift. Dia memijit nomor lantainya dan lift bergerak keatas. Aku menggelayut di tangannya. Dalam lift cuma ada kami berdua aja. Dia kemudian memeluk aku dari belakang, tangannya menelungkup diperutku. Aku menyenderkan kepalaku di dadanya yang bidang.
Dia mencium pipiku, aku menoleh, segera dia menyambar bibirku dengan gemas. Tangannya segera menyamber tokedku dan meremasnya dengan gemas juga. Terasa kontolnya yang dah mengejang menekan pantatku, dia dah napsu sekali rupanya. Kami masi tetap saling memagut bibir, Lidah kami saling menyentuh dan membelit.
“Ting tong”, bel berbunyi, lift brenti dan pintunya terbuka, segera kami melepaskan pelukan karena didepan pintu lift berdiri 2 orang. Aku dah gak peduli dengan pandangan curiga dari kedua orang tadi, dia juga menggandeng aku keluar lift dan menuju ke apartmentnya.
“Orang tadi pasti curiga liat kita pelukan ya om, om kenal ma orang itu”.
“Di apartment gini mana saling kenal sih Nis”, seing liat sih, tapi peduli amir”.
“Kok amir om”. “Iya amat kan lagi nyuci mobil di basement”, jawabnya sambil tertawa.
Apartmentnya bener2 mini, cuma ada ruang besar yang berisi sofa besar, meja makan, credenza dengan TV plasma dan audio systemnya, lemari pakean dengan kaca rias disalah satu daun pintu seblah luarnya, lemari es, dispenser aqua dan pantri kering.
Kulihat masi ada dapur yang juga mini, kamar mandi yang lumayan besar, ada bath tub, shower, wc dan meja riasnya dan mesin cuci pakean, serta pelataran untuk menjemur. Buat ndirian si cukup banget, berdua juga masi cukup.
“Kok gak da ranjangnya om”.
“Napa, Anis dah pengen gelut di ranjang ya”, jawabnya sambil menarik dudukan sofa besarnya sehingga dalam sekejab berubah menjadi ranjang ukuran King. Dia mengambil bantal dan seprei dari lemari pakeannya dan memasangkannya di ranjang sofa tadi.
“Tuh dah siap, gelut yuk”, katanya sambil memeluk aku.
“Mo pipis dulu om”, aku melepaskan diri dari pelukannya dan menuju ke kamar mandi untuk buang hajat kecil2an. Aku skalian cuci muka, membersihkan make up tipis yang kupoleskan kewajahku selon pergi dari kos, karena gak da cleaningnya ya pake air dan sabun saja, kugosok pelan dengan tisu, agak lama jadinya. Setelah bersih, kubasuh wajahku dengan air hangat dan kukeringkan dengan handuk tang tergantung di gantungan handuk.
Ketika aku keluar dari kamar mandi kulihat si om dah berbaring di ranjang hanya mengenakan CD ketat yang secara otomatis membentuk lekukan lekukan bentuk kontolnya. Aku melirik nakal kearah selangkangannya yang sudah tegang.
“Kamu kok gak lepas pakean skalian Nis”. Aku cuma senyum ja sambil membuka kemejaku dan jinsku. Di badanku tinggal menempel bra dan cdku. “Bener kan, sexy sekali kamu Nis, padahal masi abege gini”.
“Om demen banget sih muhji, ntar pala Anis jadi gede”. “Pala kamu gak bisa jadi gede, yang ada pala aku yang dah gede dari tadi”. aku cuma tertawa memandangi gelembung besar diselangkangannya yang masih tertutup cd.
Kelihatannya dia dah greget sekali ingin cepat cepat menerkam tubuh sintalku dan menindihinya di bawah tubuhnya. Aku berjalan menghampirinya. Kutatap seonggokan batang yang tersembunyi menantang di balik Cd yang dipakainya. Dengan posisi berdiri di sisi ranjang, mulai perlahan aku menjulurkan tangan kearah gundukan besar yang tersembunyi dibalik cdnya. Kuusap usap batang kontolnya seirama.
Naik… turun… yang terkadang kuselingi dengan pijatan kecil pada kantong pelir dan usapan halus di kepala kontolnya yang udah membengkak karena tegang dan keluar dari sisi atas CD yang dia pakai itu. Hati hati aku mulai menarik ke dua sisi atas CDnya, pelan pelan hingga membebaskan kontolnya yang sedari tadi ingin keluar.
Kugenggam batang kontolnya dengan tangan kanan dan mulai kumainkan batangnya sambil menaik turunkan tangannya di barengi jilatan jilatan kecil yang menyapu permukaan kepala kontol nya yang terlihat mengkilap membengkak karena rangsangan yang kuberikan lewat jilatan lidahku.
Lama lama semakin beringas aku melahap batang kontolnya hingga masuk semuanya ke dalam mulutku. Terasa sekali ujung batang kontolnya mneyentuh hingga kerongkonganku. Terkadang kugigit kecil pada helm surganya. Akibatnya geli seperti ingin kencing.
Erangannya akhirnya keluar juga setelah sekian lama dia tahan agar dia nikmatin dulu hal yang aku lakukan terhadap kontolnya. “Nis, nikmat banget si jilatan kamu…” katanya sambil mengusap usap paha putihku hingga pangkal pahaku.
Aku melepaskan emutanku karena sepertinya dia sudah mo mlanjutkan ke tahap brikutnya. Perlahan dia kecup bibir tipisku. Dengan lembut dia mengecup bibirku, perlahan disapunya setiap detail bibirku itu, lembut, halus, seperti makanan agar agar.
Perlahan aku menurunkan CD yang tadi hanya kuturunkan sepaha. aku kembali mengusap batang kontolnya yang menegang dengan keras. tangannya mulai mengusap lembut gunung kembarku yang membusung menantang untuk diremas oleh tangan perkasa. Aku melepaskan bra sehingga tokedku sekarang bebas untuk dia explorasi.
Pentilku yang merah kecil menantang ingin sesegera di hisap dan mungkin di gigit kecil. Sesaat langsung dia tarik tubuh mungilku ke dalam pelukannya. Dengan sigap dia hisap pentilku yang menantang dan ternyata telah mengeras sedari tadi. Aku tak ingin hanya aku seorang yang merasakan kenikmatan ini.
Kusambar batang kontolnya yang tegang mengacung tegak berdiri.Kukocok berirama naik turun dengan sangat lembut. “Uuuuhh….ssshhh… Nis… uuuuuhhh. Enak banget”, erangnya menikmati kocokanku di kontolnya. Aku juga menggeliat2 karena emutan di pentilku. “Om, nikmat banget deh, padahal baru diemut pentilku”, desahku tertahan.
Sekarang posisi aku dan si om seperti 69. Bra dan cdku sudah terlepas karena ulahnya. Posisi kepalanya sekarang adalah di bawah dengan posisi aku menhadapi kontolnya. kakiku sekarang mengapit kepalanya yang sedang melahap liang memekku.
Dengan kedua tangannya dia menahan pinggangku agar posisi memekku tetap di hadapannya. Sedangkan aku mengoral batang kontolnya dengan sangat lahap. Setiap kali lidahnya menyapu itilku, maka aku pasti mengapit kepalanya dengan keras, menahan sesuatu yang ingin keluar.
Dia gak perduli dengan apa yang aku rasakan. Maka dengan brutal dia buka liang memekku dengan lidahnya dan menyelipkan diantara kedua bibir memekku yang mengapit itilku. Sesekali dia sodok sodok dengan lidahnya yang menyentuh bagian yang paling sensitif ditubuhku.
“Uuuuhhhh… om ….. Anis gak tahan… mau kencing….Oooohhh…” desahku keenakan. Dia tahu aku hampir mencapai puncak. Maka dengan gerakan yang lebih kuat dia korek liang memekku dengan lidahnya yang bermain di dalam memekku.
Mengisap itilku. Mengigit kecil dan menarik itilku dan akhirnya…..”Oom….. oooohhhh. Anis gak tahan lagiiii. Aaaaakkkkhhhh”. Desahku dibarengi dengan sekujur tubuhku mengejang. Hingga akhirnya mengalir sejumlah cairan bening di sela sela bibir memekku yang montok itu.
Dengan sigap, aku jongkok tepat diselangkangannya. Kugenggam kont0l besarnya yang sangat keras itu. Aku mulai menilati lubang kencingnya, kutiup2 lubang kencingnya, sehingga dia menggelinjang kegelian.
Jilatanku meluas kearea palkonnya, leher palkonnya yang sangat sensitif tak luput dari jilatanku, kembali dia menggeliat2 keenakan. Jilatanku terus turun ke batangnya, ke biji pelernya. Biji pelernya kuisep pelan2 karena daerah itu sangat lemah sehingga kalo diemut keras2 akan terasa sakit, gak hanya ngilu.
Kuangkat biji pelernya keatas, jilatanku terus turun kebawah. Dia mengangkat kakinya keatas sehingga aku bisa menjilati daerah sensitif lainnya di kont0l lelaki adalah di lipatan antara dasar biji peler dan lobang pantatnya.
Daerah itu sangat sensitif, tidak hanya kujilat tapi kuemut pelan. Dia mengerang keenakan, “Nis, kamu pinter amir bikin aku keenakan, latihan ma cowok kamu terus ya Nis”. “He eh”, aku hanya bisa menggumanm karena aku sibuk menjilat dan mengemut daerah sensitif dibawah biji pelernya itu.
Kurasa cukup, kembali aku mengemut pelan biji pelernya, jilatannya naek ke batangnya dan berakhir lagi di lubang kencingnya, kukilik2 terus dengan ujunga lidahku. “Nis, emut kontolku dong”, pintanya. aku turuti permintaannya, kujilati palkonnya yang sudah membengkak itu, trus kumasukan palkonnya kedalam mulutku sembari lidahku terus saja menyerang lubang kencingnya.
Kuemut rada kuat palkonnya, pelan kukeluarkan dari mulutku dan langsung kumasukan lagi, berulang aku melakukannya, kuemut dengan keras sambil kukeluarkan, trus kumasukkan lagi. Dia makin menggeliat2 keenakan, “Nis, nikmat banget sepongan kamu”.
Pelan2 kuperdalam kontolnya masuk ke mulutku, karena panjangnya setengah saja sudah membuat tenggorokanku ke sodok2, sehingga aku pengen muntah, makanya kumasukan kedalam mulutku sampe batas aku nyaman saja.
Mulai kuemut keras sambil kukeluarkan dari mulut, kemudian aku masukan lagi kedalam mulutku sampe kebatas kenyamananku. Aku menandai batas itu dengan menggenggam kontolnya. Berulang kali kulakukan emutan seperti itu, dia menjambak rambutku sembari membantu menekan kepalaku agar makin cepat mengeluar masukkan kontolnya dalam mulutku.
Kemudian aku mengganti dengan mengocok kontolnya. Pangkal kontolnya kupijit dengan tangan kiri sedang tangan kanan mengocok kontolnya turun naek, keras banget kerasnya ngacengnya kontolnya.
Dia gak mau nganggur, dengan tangan sebelah kiri dia remas toketku.
“Trus Nis, kocok terus. skali2 diisep lagi Nis, Jilat…. enak…sshh…. sempit banget mulut kamu Nis…sssshhhhh”. Dia minta aku untuk makin meningkatan kegiatanku, kocokan tangan diselingi emutan mulut.
Akhirnya dia gak bisa menahan rangsangan yang ditimbulkan akibat kocokan dan emutanku yang dahsyat (bukan dahsyatnya stasiun tv lo) dan…Crooot…. crooot….muntah juga lahar panas berwarna putih memenuhi rongga mulutku.
Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan mulut dari bekas muntahan pejunya yang hampir memenuhi seluruh ruang didalam mulutku. Entah setan apa yang datang. Ketika melihat aku yang sedang menungging membersihkan mulut, napsunya kembali bergejolak ketika melihat lipatan daging yang terhimpit antara pahaku yang montok putih merangsang.
Sekejap langsung dia jongkok di belakangku tepat di bawah pantatku yang bulat itu. kemudian mulai menjilat liang memekku yang tadi mengodanya untuk kembali dijamah lagi.
“Om, Anis kan lagi bersihin mulut nih… ssssshhhh….nanti dulu dong. Uuuuuhhh….” ujarku yang masih dengan posisi menungging membelakangi dia. Tanpa menghiraukan aku berkata apa dia terus menjilati liang memekku.
“Nis aku masukin kontolku ke mem3k kamu dari belakang ya”, pintanya dengan mengambil posisi doggie style. Gak da matinya ni orang, baru ja ngecret dimulutku dah ngaceng lagi karena ngejilatin memekku. Dia suruh aku memegang wastafel di hadapanku dan merenggangkan kedua kakiku agak lebar.
Dengan tangan sebelah kanan mengenggam batang kontolnya, dia mengesek gesekkan palkonnya pada bibir memekku. perlahan lahan dengan dibantu cairan yang keluar dari sela sela memekku, kontolnya mulai menerobos masuk. Pelan dia mendorong kontolnya hingga membuat kedua bibir memekku ikut tertekan kedalam.
Terasa sekali ketika benda tumpul berurat hendak memaksa masuk kedalam liang memekku yang baru pertama kali kenalan dengan kont0l extra large seperti si om punya. Dengan susah payah, akhirnya palkonnya berhasil masuk. Perlahan dia tekan kembali dengan sedikit keras dan tangan kirinya memeras toketku yang putih serta pentilku yang mengeras meruncing ke depan.
“Tahan ya Nis… ini hanya pertamanya saja seret. Nanti setelah kontolku masuk ke dalam mem3k kamu kamu akan ngerasain kenikmatan yang belon pernah kamu dapet dari cowok kamu”. Aku tak menjawab, hanya menganggukkan kepala dan sesekali menatap ke arahnya yang sekarang akan mengentotin aku lebih lanjut.
Kontolnya menyelinap makin dalam, memekku menganga selebar mungkin supaya dapat menelan kontol besarnya yang mengisi seluruh relung memekku sampe rasanya gak da lagi tempat yang tersisa, penuh banget rasanya memekku keisi kontol besarnya.
Pelan pelan dia tarik batang kontolnya hanya menyisakan setengahnya di dalam dan kembali menekan batang kontolnya masuk kedalam lagi. Dia lakukan berkali kali biar memekku akhirnya bisa menyesuai benda asing yang menganjal di tengah tengah rongga sempit itu. selama 3 menit lebih dia lakukan pengadaptasian di memekku Rini.
Aku mulai mendesah, rasa nikmat mulai menderaku ketika pelan dia mulai mengeluark-masukkan kontolnya di memekku. “Gimana Nis?” “Nikmat om, agak lebih cepat dan agak keras dong tekannya. Enak… sekarang enak sekali om”.
Dia mempercepat sodokan kontolnya ke dalam memekku, yang seirama dengan goyanganku yang mendorong pantatku yang putih bulat itu ke belakang. Sodokan demi sodokan dia pompa terus menerus ke memekku. terasa sekali batang kontolnya menggesek dinding dalam memekku, jelas menimbulkan rasa ngilu yang begitu amat sangat nikmatnya. Semakin lama dia percepat irama pompaan kontolnya yang diiringi desahan hausku, “uuuuhhh…. ssshhhh…. om. Lagi om. Lebih keras,” pintaku.
Mungkin karena merasa terkuras tenaganya, akhirnya dia minta aku untuk mengubah posisi ngentotnya. Dia gendong aku merapat ke dinding. kedua tanganku melingkar di lehernya. Kedua kakiku melingkar dipinggangnya seperti anak kecil yang sedang ingin memanjat pohon.
Dengan cepat aku meraih batang kontolnya dan menusukkan kembali ke dalam liang memekku. Aku tak mau sampai kenikmatan yang tadi aku rasakan terputus sebelum aku mencapai puncak kenikmatannya yang selanjutnya. Dengan gaya mengendong aku, dia berjalan menuju ke dalam kamar.
Dia merebahkan tubuh mungilku yang mengiurkan itu di atas ranjang. Dia berusaha untuk tidak merubah posisi keberadaan kontolnya yang sudah menancap didalam memekku. Dia mengangkat kedua kakiku dan menaruhkannya di atas bahunya, membuat dia lebih leluasa mengeluar-masukkan kontolnya dalam memekku.
“Eeehhhhmmm… eeehhhhmm…. enak gak Nis kalau aku sodok memek kamu kayak gini”, tanyanya, sementara aku dalam posisi setengah tertindih oleh badannya. aku hanya menatapnya yang sedang memompa memekku sambil mengigit tipis bibir bawahku yang mungil.
Aku menganggukkan kepala dan mengusap usapkan kedua tanganku pada dadanya yang bidang. ekspresi mukaku yang menunjukkan aku sedang kenikmatan membuat dia makin terangsang banget. Saat dia hentakin dengan keras batang kontolnya ke dalam liang memekku, bibir mungilku membuka sedikit. “Nis… mem3k kamu memang sungguh nikmat sekali”. Aku menatap dia yang masih terus memompa memekku dengan cepat.
Selang beberapa menit aku meminta agar merubah posisi ngent0t menjadi women on top. Alasanku supaya aku lebih menikmati bila liang memekku ditikam oleh kontolnya dari bawah. Sensasi yang aku rasakan lebih nikmat dibandingkan dengan gaya sebelumnya.
Perlahan dia merubah posisi kembali. Namun kali ini terpaksa harus mencabut terlebih dahulu kontolnya yang sudah tertancap di memekku. Dengan berirama aku mengoyangkan pantatku yang bulat indah itu maju mundur, layaknya seseorang yang sedang naik kuda pacuan. Terasa sekali kontolnya mengaduk seluruh liang memekku.
Terkadang gerakanku maju mundur, terkadang berputar putar seperti goyangan Inul daratista yang sedang goyang ngebor.
“Nis…. nikmat banget. Trusss Nis. Jangan berhenti.” Terasa kontolnya makin membengkak, pertanda sebentar lagi dia akan ngecret lagi.
“Gila enak banget, mem3k kamu Nis, Uuuuhhh… trus… Nis”.
“Om, Anis mau…. mmmmauu…. sssssshhh…. ooom…. oooooohhh…. kkllluar”, desahku ngasi tau dia kalo aku juga mo klimax.
“Nis… tahan sebentar lagi… seddiiikkit lagi. Kita keluarin sama samma yah….uuuhh.” Semakin kencang aku ngegoyang pantatku. Dan akhirnya….”Aaakkkhhh….. ooom”, teriakku sambil merebahkan tubuhku yang lemas terkuras di atas tubuhnya dengan posisi batang kontolnya yang masih menancap didalam memekku.
Karena aku tak mampu menahan dorongan napsuku akhirnya aku mencapai puncaknya terlebih dahulu. Dengan kencang dia hujam kontolnya semakin cepat ke dalam memekku. Tanpa memperdulikan tubuhku yang sudah terbujur lemas di atas badannya, sampai akhirnya,
Crooot…. Croot, pejunya muncrat semuanya didalam memekku. Hebatnya walaupun tadi dah ngecret dimulutku, kali ini tetep ja pejunya banyak ngecretnya hingga tak tertempung di memekku. Pejunya mengalir melalui sela sela bibir memekku yang montok itu.
Tanpa mencabut kontolnya yang masih menancap di memekku, aku merebahkan badanku yang lemas terkuras karena pertempuran yang membawa kenikmatan ini diatas badannya.
“Om, nikmat banget deh dientot ma om”.
“Kamu suka kontolku Nis”.
“Bangetz”.
“jadi boleh dong sering2 aku ngentotin kamu”.
“Bangetz om, kontak Anis ja om kalo om pengen ngentotin Anis lagi”. Kami melakukannnya berkali2 sampe waktu cek out besoknya, sungguh nikmat dientot ma om yang perkasa gitu walaupun aku jadinya lemes buanget.
Anak Kawan Ku Bernama Rin
makincrot.blogspot.com - Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi di Bandung, dan sekarang sudah tingkat akhir. Untuk saat ini aku tidak mendapatkan mata kuliah lagi dan hanya mengerjakan skripsi saja. Oleh karena itu aku sering main ke tempat abangku di Jakarta.
Suatu hari aku ke Jakarta. Ketika aku sampai ke rumah kakakku, aku melihat ada tamu, rupanya ia adalah teman kuliah kakakku waktu dulu. Aku dikenalkan kakakku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah kepadaku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman. Ia pun mengundangku untuk main ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-istrinya. Istrinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, duduk di kelas 2 SMP.
Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan anaknya tidak ikut karena sekolah.
Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun bersantai dan kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet.
“Hallo, Oom Ryan..!” Rina yang baru masuk tersenyum.
“Eh, tolong dong bayarin Bajaj.. uang Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”
Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah.
“Eh, tolong dong bayarin Bajaj.. uang Rina sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada kembalinya.”
Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu rupiah.
Saat aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Rina duduk di karpet di depan televisi, dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Mia memandang kepadaku dan tertawa geli.
“Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
Gugup aku menjawab, “Rina.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.”
“Aahh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem.”
“Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di sekolah, tapi belon pernah liat.”
Gugup aku menjawab, “Rina.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup umur! Ayo, matiin.”
“Aahh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma begitu aja! Gambar yang dibawa temen Rina di sekolah lebih serem.”
Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina justru akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.
Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan.. astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.
Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.
Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.
“Oom, ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener.. Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!”
“Aahh.. Oom Ryan ngeledek..!”
Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung!
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian.. putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener.. Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!”
“Aahh.. Oom Ryan ngeledek..!”
Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung!
Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.
Nafas Rina makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.. mmhh..” Rina menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!
“Uuuhh.. mmhh..” Rina menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!
Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.
“Ehh.. mmaahh..,” tangan Rina meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh.. aduuhh..,” Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh.. aduuhh..,” Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.
Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
Segera saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.
Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.
Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.
Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan pinggulku. Rina mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak.
Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Rina makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku.
Setelah tubuh Rina melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua.
Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom.. Rina lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang.
“Aduh, Oom.. Rina lemes. Tapi enak banget.”
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang.
Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan.. kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Rina.. entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.
Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.
Ngentot Bersama Bidan Pengalamanan
makincrot.blogspot.my - Tanpa banyak pikir akupun langsung kerumah Bu Tika yang berjarak 50m dari ruang tempat persalinan istriku atau tempat praktek Bu tika. Lampu ruang tamu n tempat prakteknya masih menyala, Agak ragu- ragu karena takut mengganggu,lalu kupencet bel di rumahnya,
Ting toooongggg…
Pintu tempat praktek bu Tika tak lama terbuka,
“Eh mas edi, sialahkan masuk mas” sambut Bu Tika.
“Iya Bu” balesku.
“Duduk dulu Mas, Saya ambilakn obat nya dulu” Sambung Bu Tika.
“Ya Bu” Aku cuma ber iya-iya aja.
“Enak ya Mas udah punya istri cantik sekarang sudah punya dede juga, cowok lagi ”Bu Tika mulai buka obrolan sambil ngracik obat.
“Alhamdulillah Bu, dikasih amanah sama yang Maha Kuasa” Jawabku.
“Aku juga pengin banget sebenernya”katanya.
“Ya tinggal bilang aja sama Mas Bram donk Bu” Lanjutku.
“Emang Mas Bram sedang kemana bu kok gak keliatan” Aku coba ganti topik obrolan.
“Tadi sih telpon katanya mo ngecek barang yang baru datang, Jadi pulangnya telat” jawab Bu Tika.
“Lhooo… bukannya Mas kerjanya juga sama kaya mas bram ngecek barang?” Sambungnya.
“Iya sih Bu, kemarin udah sepakat mo bareng ke tokonya tapi aku tadi pagi dah nyuruh Toni buat ngecek soalnya aku bakal ndampingi istri mo melahirkan”jawabku.
“Duh bertanggung jawab banget sih mas Edini” Lanjutnya sambil tersenyum kepadaku.
“Hehe…biasa sih Bu”.
Tak lama obat pun selesai diracik,
“Ini Mas obatnya, Aturan minumnya ada di bungkusnya ya Mas” kata Bu Tika.
“Iya Bu makasih, permisi sekalian Bu” kataku.
“Iya mas sama-sama.”
Lanjut ngobrolnya, tiba-tiba Bu Tika bilang,
“Kayaknya Mas Bram gak bisa ngasih anak deh” Deg jatungku serasa berhenti.
“Kenapa Bu Tika bilang begitu ya? Batinku.
“Ah jangan bilang gitu Bu, belum diamanahi mungkin”
“Emang iya koq Mas, Ya nasibku mungkin, andai saja Mas Bram kaya Mas Edi pasti enak deh” Sambil senyum genit.
“Ya usaha & tawakal aja Bu….eh enak gimana maksutnya ya Bu” Tanyaku.
“Ya enak…enak jadi istrinya pasti dikelonin terus” Bu Tika.
“Sama istri sendiri ini kan gak apa apa toh Bu” Aku.
“Iya sih tapi aku jadi ngiri deh” Bu Tika.
Sejenak aku mikir nakal,
“Ngiri minta dikelonin juga?” Candaku setengah mincing.
“Boleh kalo mas edi ada waktu” Jawabnya seraya tersenyum.
“Ah udah Ah malah ngelantur, AKU permisi dulu Bu udah malem”
“Ok mas ,ati ati” Jawabnya.
Akupun segera beranjak takut ada setan lewat….hehe.
Setelah kejadian itu entah kenapa Bu Tika selalu datang kerumah dengan berbagai macem alesan medis dan bahkan sering ngasih sesuatu ke anakku yang masih bayi dan selama itu sikapnya ke aku terbilang biasa aja sampai waktu itu hari senin jam 10.00 pagi hari, Aku yang kebetulan malamnya habis cek barang sengaja gak ke toko karena kebetulan baby sisterku lagi ada hajatan dirumahnya dan anakku sudah berusia 4bulan.
Jadi sudah agak mudah dimomong,
“Lagi apa mas” Sms masuk di Hpku.
“ Maaf ini siapa ya?” Balesku.
“Tika mas gimana kabar?”
“Eh Bu tika,Baik Bu, Ini lagi momong anak” Balesku.
“Loh Ibunya kemana?” Balesnya.
“Kerja Bu, udah aktif lagi. eh tau nomorku dari mana?” Aku.
“Dari hape mas bram” Bu Tika.
Aku tidak membales sms terakhirnya karena harus nimang anak di ayunan soalnya udah terlelap.
Sudah 4bulan lamanya sejak obrolan dimalam itu,
“Saya mau ngecek kesehatan riski mas, Boleh?” Smsnya lagi.
“Boleh, Bukannya kemarin udah ya bu?” Aku.
“Ada yang kelupaan mas” Bu tika.
kemudian,
tok tok took…
Assalamu’alaikum…
Wa’alaikum salam…
Aku bergegas ke arah pintu dan membukanya,
“Eh Bu Tika, Mari masuk” Kataku.
Tak lama anakku pun di perikasanya,
“Susunya pake ASI apa formula mas?” Bu Tika tanyanya.
“Sekarang formula Bu, Asi cuma 2 bulan habis itu gak mau lagi” Jawabku.
“Gak mau apa gak boleh sama bapaknya?” Candanya.
“Hehehe, Bisa aja Bu Tika ini emang anakknya yang gak mau Bu mungkin Asinya gak lancar” Aku.
“Owh…gitu ya” Bu Tika.
“Gimana yang katanya mau ngelonin aku” Ucap bu tika tiba tiba.
“Eh eeeeehh…mmmmmm waktu itu kan cuma becanda Bu, Dari pada bingung mau ngobrol apa,” Jawabku sambil cengar cengir.
“Looooh padahal aku ngarepnya beneran loh” kali ini tatapannya serius.
Aku pun terdiam bingung mau mgomong apa,
“tapi mana mungkin juga Mas Edi ini mau sama aku yang udah tua” Bu tika bergegas.
“kalo dikasih sih ya mau mau aja toh Bu” Aku jawab, dan pikirku selisih umurku hanya 5 tahun dibawahnya.
Bu Tika menoleh ke Aku yang sedang duduk di sofa kasur diruang keluarga, kemudian meletakkan anakku yang tadi digendongnya di ayunan, Dia menghampiriku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, Dia tanpa kata-kata satupun melumat bibirku dan memainkan lidahnya dirongga mulutku, Aku tersentak kaget, Dan tak berapa lama akupun balas ciumanya dengan gigitan kecil mesra.
Bu Tika melepaskan ciumannya dan berkata,
“Aku pengin ngrasain spermamu mas ?”
Aku lanjutkan mencium bibirnya dan begitu lama kami berciuman, Tangankupun mulai aktip bergerilya di sekitar buah dadanya dan memainkan gundukan gunung kembarnya yang masih tertutup pake baju. Wah gede banget, pikirku. kuhentikan ciumanku ku buka blazer atau pakean yang Butika pake dan ku peluk Buah dadanya, ternyata gak pake BH, Langsung ku remes pelan dan kumainkan puting susunya sementara bibirku dan bibir BuTika masih saling bercumbu mesra.
“Aaaaahhhhh…Hemmmmmmm,” Bu tika mendesah.
Saat aku mulai menjilati dan mengenyot Buah dadanya yangng kiri sedang kanannya kuremas dan plintir-plintir putingnya.
Bu Tika pun tak tinggal diam, tangannya menggrayangi celana pendekku, mengusap ngusap penisku yang sudah berontak tegang di celana pendekku yang tak berCD, Sambil mendesah teteknya ku mainin ya, Bu Tika menyusupkan tangannya kedalam celana pendekku yang berkolor mencari dan tersembunyi itu.
Bu Tika mendorong ku agar tiduran, Sementara mulut dan tanganku masih asik memainkan buah dadanya Bu Tika yang gede.
Bu tika memutar badannya hingga posisinya diatasku dan Buah dadanya dibiarkan menggelantung, Lalu aku sedot dengan cumbuan mesraku.
Bu Tika memlorotin kolorku dan terpampanglah penisku yang udah tegak lurus dan kenceng.
Bu Tika mencabut susunya dari sedotanku dan merangkak menuju peisku, Mengelusnya dan mengocoknya sebentar lalu dikulumnya penisku hingga membuatku merinding, sementara aku pun menyibak roknya dan terkaget Bu Tika gak pake CD, Langsung saja ku jilat vaginanya yang udah basah, Ku jilat vaginanya dan ku gigit ringan klirotilnya namun jeritannya tak terdengar keras soalnya mulutnya dipenuhi batang penisku dan kami pun dengan gaya 69 cukup lama.
“Aaaaaaaaahhhhhhhhh,,ssssssshhhhhh,”.
Vaginanya ditekankan ke wajahku sambil badannya bergetar hebat dan keluarlah cairan kas wanita atau orgasme.
Bu Tika bangkit melucuti pakaian dan roknya yang masih menempel dibadannya sedangkan aku masih terlentang di sofa dengan penis yang berdiri tegak, Bu Tika menaikiku dan posisi kami behadapan, dipegangnya penisku diarahkan ke memeknya dan dimasukan,
Bleeeessssss…
Dan langsung aku masukan batang penisku sampai pol karna vaginanya yang sudah basah, Setelah masuk aku diamkan sebentar dan Bu Tika pun mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur perlahan lahan memompa penisku didalam vaginanya dan lama kelamaan goyangan maju mundurnya mulai dipercepat dan semakin cepat dan akupun mengimbanginya ikut bergoyang mengikuti irama goyangan pantat Bu Tika, kedua tanganku meremaskan di buah dadany BU Tika samapai-sampai ke dua tanganya mencengkram kuat tanganku, karana tanganku yang sedang meremas kedua buah dadanya.
“Ahhhhhh….ahhhhhhh…..ahhhhhhhhhhhhhhhh…,”
Bu tika jatuhin badanya kedadaku, Dia tersenyum, dan mencium lembut bibirku sementara aku menggoyang goyangkan gaya maju mundurku dan penisku yang masih terbenam di memeknya yang sudah orgasme ke dua kali, Lalu Bu Tika bangkit lagi jongkok diatasku dengan penisku yang masih di dalam vaginanya yang masih tegar, Dia naik turun diatasku sambil merem melek menikmati surga dunia, Sementara buah dadanya juga ikut naik turun akibat gerak naik turun memompa penisku, kali ini aku diam saja dengan menikmati.
Sesekali kali dimentokin penisku hingga menyentuh rahimnya sambil dia goyangin pantatnya ke kanan kekiri dan tak lama
“Ouuuuchhhh… sssssshhh…Ehhhhh ….ahhhhhhh”.
Penisku basah oleh cairan vaginanya yang orgasme yang ketiga kalinya. Bu tika ambruk di dadaku lagi dengan penisku yang masih menancap tegang di vaginanya,
“Mas ayo digoyang lagi”.
Aku langsung menaik turunkan pantatku, dengan gaya mompa naik turun, tiba tiba Bu Tika bangkit dan nungging sambil berpegangan sandaran sofa kasur, Akupun paham langsung mengarahkan penisku ke vaginanya dari belakang, aku genjot kencang tak pedulikan erangan dan racauan Bu Tika, ku remas kupukul pukul pantatnya
dan tak lama,
“Bu..aku mau keluaaaaaaar ni,”.
“Keluarin dalam aja gak papa,” jawab Bu Tika.
Crot crot croooooooooottttt crooooooooooooottttttt.
spermaku muncrat didalam Vaginanya Bu Tika, Dan penisku ku biarkan di vaginanya, Dan tidurku di pelukan Bu Tika dari belakang, kuciumi leharnya sambil kuremas gemas kedua buah dadanya.
“Emang gak apa apa Bu?” Tanyaku.
“Gak apa- apa mas, Tenang aja aku numpang ke kamar mandi dulu ya mas,” Bu tika.
Ku cabut penisku dan kupandangi goyangan pantatnya saat telanjang menuju kamar mandi yang mau bersih bersih, tak lama Bu Tika kembali dari kamar mandi dan selese bersih bersihnya,kupandangi buah dadanya yang menggelayut besar didadanya dan kubiarkan Bu Tika merapikan penampilannya lagi, sementara aku Cuma berihin pake tisu basah punya anakku untuk bersihin penisku dan kupakai lagi celana kolorku,
“Makasih ya Mas, Aku pulang dulu ya?”
Bilangnya sambil mengecup bibirku.
Hampir seminggu ga ada kabar, Pada hari minggu istriku ditelpon Bu Tika katanya hari ini jadwalnya imunisasi tahap 5. Istriku tak seperti biasa, hari itu mengajakku untuk imunisasi anakku dirumah praktek Bu Tika dan aku pun menggendong anakku, setelah diimunisasi pas mau pulang istriku kebelet pipis dan memohon ijin buat pipis di wc tempat praktek Bu Tika, Kesempatan itu Bu Tika bilang ke aku kalo dia udah telat mens, Aku kaget tapi Bu Tika malah tersenyum gembira.
Sesampainya dirumah aku berusaha menghilangkan pikiran, Bu Tika yang telat mens setelah berhubungan denganku, hampir tak bisa menghilangkan pikiran andai istriku tidak mengajak bersetubuh. Hari itu hari senin jam 4 sore aku pulang ke rumah dan seperti biasa aku melewati jalan pintas beraspal yang melintas melingkari rumah bu tika dari belakang sampai kedepan halaman rumahnya soalnya rumah Bu Tika terletak di pojok jalan komplek tempatku tinggal.
Ku lihat Bu Tika sedang membuang sampah dibelakang rumah dan melihatku melintas, dipanggilnya aku,
“Udah pulang mas koK tumben pake motor?” Sapanya.
“Iya Bu, lagi pengin naek motor aja biar irit” Jawabku sambil tersenyum.
“Mampir sini Mas, Mas Bram lembur lagi, cek dropan barang.”.
“GaK enak Bu takut dilihat orang nanti bisa celaka” Jawabku.
“Masukin aja motornya lewat dapurku Mas, Ayo mas, mau ya?” Pintanya sambil tersenyum genit.
“Yaudah deh Bu” Sahutku segera memasukkan motorku lewat dapur bu widi yang tembus ke garasi mobilnya.
Bu tika membuatkan satu gelas minuman kesukaanku dan ketika menyuguhkan minuman, Buah dadanya terpampang jelas di wajahku karna dia memakai kaos berkerah rendah, Langsung ku tarik tangannya hingga Bu Tika tersungkur ke arahku,
Kucium bibirnya dengan ganas, kukulum lidahnya dan kumainkan lidahku di rongga mulutnya, Bu Tika membalas pagutanku. begitu lama kami berciuman, Bu Tika melepaskan ciumannya,
“Diminum dulu Mas?”.
Akupun meminum es sirup dan kulihat Bu Tika membuka kaosnya dan terlihat jelas buah dadanya yang gede tanpa tersanggah BH, Es sirup rasa susu cap nona nih batinku. kuletakkan gelas minuman yang telah habis ku minum langsung ku remas-remas Buah dadanya yang gede yang ngganggur dihadapanku, Lalu ku kenyot kencang sampai Bu Tika melenguh, kuremas dan kupilintir putingnya yang sudah mengeras sementara itu Bu Tika juga sibuk melepas bajunya dan ternyata dia gak pake CD.
Akuu hentikan kenyotanku, kududukkan Bu Tika dan reflek kakinya langsung mengkangkang, kujilat memek dan klirotilnya dan bau khas memeknya, kumasukkan lidahku ke dalam memeknya sambil tanganku meremas kedua buah dadanya tanpa sadar Bu Tika mendesah menikmati lubang vaginanya ku jilati, Bu Tika menekan kepalaku ke memeknya hingga membuatku susah bernafas tapi kutahan karna aku terus menjilati vaginanya dan kuremas serta kupilin puting buah dadanya agar Bu Tika semakin dekat dengan kenikmatan orgasmenya,
“Aaaaaaaaaccchhhhhhhh…”.
Tubuhnya menggelinjang kuat ketika cairan wanitanya keluar membasahi vaginanya, Aku segera bangkit dan melepas celana jeansku beserta cd dan jaket yang kupakai, kubiarkan kaos tetap menempel ditubuhku, langsung penisku ku masukan ke vaginanya yang masih terlentang di sofa ruang keluarganya, kali ini dengan hati- hati soalnya Bu Tika sedang mengandung janin hasil hubunganku dengannya.
Perlahan namun pasti penisku masuk keliang vaginanya, Aku mulai memaju mundurkan pantatku dan lama lama mulai kupercepat dan gerakan majumundur atau penisku yang menusuk nusuk vaginanya yang sudah sangat basah, nampak Bu Tika juga ikut menggerak gerakan pantatnya mengimbangi gerakanku.
Ku remas kedua tbuah dadanya yang terombang ambing akibat gerakan pompa divaginanya, tangan Bu Tiika mencengkeram pantatku serasa membatuku memaju mundurkan penisku. Bu Tika mengejang, pahanya mengapit pingganggku kencang, Dia melenguh kencang dan peniskupun terasa cairan hangat vaginya Bu Tika yang sedang orgasme.
Bu Tika lemas tapi aku melanjutkan dan menggerakan gayaku terus kupercepat gerakanku dan tak lama penisku hendak mengeluarkan lahar panas, ditekannya pantatku dalam dalam dan kurasakan penisku mentok dirahimnya dan,
crooot croooot crooottt.. ahhhhhhhhhh.
Sepermaku meluncur deras di dalam vaginanya.
Masih kubiarkan penisku didalam vagina Bu Tika, kucium bibir Bu Tika dengan mesra,
“Makasih ya mas, ” candanya genit.
Aku tersenyum sambil mencubit putingnya, ku cabut penisku, tiba tiba dipegangnya penisku, dan dijilatnya dan dikulumnya hingga bersih, ngilu rasanya.
“Biar gak usah ke kamar mandi mas” timpal Bu Tika.
“Gak jijik sih bu?” tanyaku tersenyum.
“Enggaklah Mas” Jawabnya sambil makein cd ku, sebelum penisku dimasukkan ke cd, diciumi lagi penisku.
Kupake celana jeans dan jaketku sedang Bu Tika ke kamar mandi lalu mengambil bh dan cd, lalu dipakai dan memakai baju. Lanjut aku pamit pulang, dan mengambil motor dan keluar lewat garasi mobil.
Hari- hari selanjutnya tiap suaminya gak ada dirumah dan tiap ada kesempatan selalu melakukan hubungan seks sama Mas Edi.
Hal ini tanpa dicurigai suaminya karena Bu Tika juga selalu melayani suaminya meski katanya kurang puas, Aku juga selalu rutin tanpa mengurangi rasa dalam hubungan sexku dengan istriku.
Sedang pembantu Bu Tika datang kerumah Bu Tika hanya masak pagi siang malam dan bersih- bersih dipagi hari.
Ting toooongggg…
Pintu tempat praktek bu Tika tak lama terbuka,
“Eh mas edi, sialahkan masuk mas” sambut Bu Tika.
“Iya Bu” balesku.
“Duduk dulu Mas, Saya ambilakn obat nya dulu” Sambung Bu Tika.
“Ya Bu” Aku cuma ber iya-iya aja.
“Enak ya Mas udah punya istri cantik sekarang sudah punya dede juga, cowok lagi ”Bu Tika mulai buka obrolan sambil ngracik obat.
“Alhamdulillah Bu, dikasih amanah sama yang Maha Kuasa” Jawabku.
“Aku juga pengin banget sebenernya”katanya.
“Ya tinggal bilang aja sama Mas Bram donk Bu” Lanjutku.
“Emang Mas Bram sedang kemana bu kok gak keliatan” Aku coba ganti topik obrolan.
“Tadi sih telpon katanya mo ngecek barang yang baru datang, Jadi pulangnya telat” jawab Bu Tika.
“Lhooo… bukannya Mas kerjanya juga sama kaya mas bram ngecek barang?” Sambungnya.
“Iya sih Bu, kemarin udah sepakat mo bareng ke tokonya tapi aku tadi pagi dah nyuruh Toni buat ngecek soalnya aku bakal ndampingi istri mo melahirkan”jawabku.
“Duh bertanggung jawab banget sih mas Edini” Lanjutnya sambil tersenyum kepadaku.
“Hehe…biasa sih Bu”.
Tak lama obat pun selesai diracik,
“Ini Mas obatnya, Aturan minumnya ada di bungkusnya ya Mas” kata Bu Tika.
“Iya Bu makasih, permisi sekalian Bu” kataku.
“Iya mas sama-sama.”
Lanjut ngobrolnya, tiba-tiba Bu Tika bilang,
“Kayaknya Mas Bram gak bisa ngasih anak deh” Deg jatungku serasa berhenti.
“Kenapa Bu Tika bilang begitu ya? Batinku.
“Ah jangan bilang gitu Bu, belum diamanahi mungkin”
“Emang iya koq Mas, Ya nasibku mungkin, andai saja Mas Bram kaya Mas Edi pasti enak deh” Sambil senyum genit.
“Ya usaha & tawakal aja Bu….eh enak gimana maksutnya ya Bu” Tanyaku.
“Ya enak…enak jadi istrinya pasti dikelonin terus” Bu Tika.
“Sama istri sendiri ini kan gak apa apa toh Bu” Aku.
“Iya sih tapi aku jadi ngiri deh” Bu Tika.
Sejenak aku mikir nakal,
“Ngiri minta dikelonin juga?” Candaku setengah mincing.
“Boleh kalo mas edi ada waktu” Jawabnya seraya tersenyum.
“Ah udah Ah malah ngelantur, AKU permisi dulu Bu udah malem”
“Ok mas ,ati ati” Jawabnya.
Akupun segera beranjak takut ada setan lewat….hehe.
Setelah kejadian itu entah kenapa Bu Tika selalu datang kerumah dengan berbagai macem alesan medis dan bahkan sering ngasih sesuatu ke anakku yang masih bayi dan selama itu sikapnya ke aku terbilang biasa aja sampai waktu itu hari senin jam 10.00 pagi hari, Aku yang kebetulan malamnya habis cek barang sengaja gak ke toko karena kebetulan baby sisterku lagi ada hajatan dirumahnya dan anakku sudah berusia 4bulan.
Jadi sudah agak mudah dimomong,
“Lagi apa mas” Sms masuk di Hpku.
“ Maaf ini siapa ya?” Balesku.
“Tika mas gimana kabar?”
“Eh Bu tika,Baik Bu, Ini lagi momong anak” Balesku.
“Loh Ibunya kemana?” Balesnya.
“Kerja Bu, udah aktif lagi. eh tau nomorku dari mana?” Aku.
“Dari hape mas bram” Bu Tika.
Aku tidak membales sms terakhirnya karena harus nimang anak di ayunan soalnya udah terlelap.
Sudah 4bulan lamanya sejak obrolan dimalam itu,
“Saya mau ngecek kesehatan riski mas, Boleh?” Smsnya lagi.
“Boleh, Bukannya kemarin udah ya bu?” Aku.
“Ada yang kelupaan mas” Bu tika.
kemudian,
tok tok took…
Assalamu’alaikum…
Wa’alaikum salam…
Aku bergegas ke arah pintu dan membukanya,
“Eh Bu Tika, Mari masuk” Kataku.
Tak lama anakku pun di perikasanya,
“Susunya pake ASI apa formula mas?” Bu Tika tanyanya.
“Sekarang formula Bu, Asi cuma 2 bulan habis itu gak mau lagi” Jawabku.
“Gak mau apa gak boleh sama bapaknya?” Candanya.
“Hehehe, Bisa aja Bu Tika ini emang anakknya yang gak mau Bu mungkin Asinya gak lancar” Aku.
“Owh…gitu ya” Bu Tika.
“Gimana yang katanya mau ngelonin aku” Ucap bu tika tiba tiba.
“Eh eeeeehh…mmmmmm waktu itu kan cuma becanda Bu, Dari pada bingung mau ngobrol apa,” Jawabku sambil cengar cengir.
“Looooh padahal aku ngarepnya beneran loh” kali ini tatapannya serius.
Aku pun terdiam bingung mau mgomong apa,
“tapi mana mungkin juga Mas Edi ini mau sama aku yang udah tua” Bu tika bergegas.
“kalo dikasih sih ya mau mau aja toh Bu” Aku jawab, dan pikirku selisih umurku hanya 5 tahun dibawahnya.
Bu Tika menoleh ke Aku yang sedang duduk di sofa kasur diruang keluarga, kemudian meletakkan anakku yang tadi digendongnya di ayunan, Dia menghampiriku lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, Dia tanpa kata-kata satupun melumat bibirku dan memainkan lidahnya dirongga mulutku, Aku tersentak kaget, Dan tak berapa lama akupun balas ciumanya dengan gigitan kecil mesra.
Bu Tika melepaskan ciumannya dan berkata,
“Aku pengin ngrasain spermamu mas ?”
Aku lanjutkan mencium bibirnya dan begitu lama kami berciuman, Tangankupun mulai aktip bergerilya di sekitar buah dadanya dan memainkan gundukan gunung kembarnya yang masih tertutup pake baju. Wah gede banget, pikirku. kuhentikan ciumanku ku buka blazer atau pakean yang Butika pake dan ku peluk Buah dadanya, ternyata gak pake BH, Langsung ku remes pelan dan kumainkan puting susunya sementara bibirku dan bibir BuTika masih saling bercumbu mesra.
“Aaaaahhhhh…Hemmmmmmm,” Bu tika mendesah.
Saat aku mulai menjilati dan mengenyot Buah dadanya yangng kiri sedang kanannya kuremas dan plintir-plintir putingnya.
Bu Tika pun tak tinggal diam, tangannya menggrayangi celana pendekku, mengusap ngusap penisku yang sudah berontak tegang di celana pendekku yang tak berCD, Sambil mendesah teteknya ku mainin ya, Bu Tika menyusupkan tangannya kedalam celana pendekku yang berkolor mencari dan tersembunyi itu.
Bu Tika mendorong ku agar tiduran, Sementara mulut dan tanganku masih asik memainkan buah dadanya Bu Tika yang gede.
Bu tika memutar badannya hingga posisinya diatasku dan Buah dadanya dibiarkan menggelantung, Lalu aku sedot dengan cumbuan mesraku.
Bu Tika memlorotin kolorku dan terpampanglah penisku yang udah tegak lurus dan kenceng.
Bu Tika mencabut susunya dari sedotanku dan merangkak menuju peisku, Mengelusnya dan mengocoknya sebentar lalu dikulumnya penisku hingga membuatku merinding, sementara aku pun menyibak roknya dan terkaget Bu Tika gak pake CD, Langsung saja ku jilat vaginanya yang udah basah, Ku jilat vaginanya dan ku gigit ringan klirotilnya namun jeritannya tak terdengar keras soalnya mulutnya dipenuhi batang penisku dan kami pun dengan gaya 69 cukup lama.
“Aaaaaaaaahhhhhhhhh,,ssssssshhhhhh,”.
Vaginanya ditekankan ke wajahku sambil badannya bergetar hebat dan keluarlah cairan kas wanita atau orgasme.
Bu Tika bangkit melucuti pakaian dan roknya yang masih menempel dibadannya sedangkan aku masih terlentang di sofa dengan penis yang berdiri tegak, Bu Tika menaikiku dan posisi kami behadapan, dipegangnya penisku diarahkan ke memeknya dan dimasukan,
Bleeeessssss…
Dan langsung aku masukan batang penisku sampai pol karna vaginanya yang sudah basah, Setelah masuk aku diamkan sebentar dan Bu Tika pun mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur perlahan lahan memompa penisku didalam vaginanya dan lama kelamaan goyangan maju mundurnya mulai dipercepat dan semakin cepat dan akupun mengimbanginya ikut bergoyang mengikuti irama goyangan pantat Bu Tika, kedua tanganku meremaskan di buah dadany BU Tika samapai-sampai ke dua tanganya mencengkram kuat tanganku, karana tanganku yang sedang meremas kedua buah dadanya.
“Ahhhhhh….ahhhhhhh…..ahhhhhhhhhhhhhhhh…,”
Bu tika jatuhin badanya kedadaku, Dia tersenyum, dan mencium lembut bibirku sementara aku menggoyang goyangkan gaya maju mundurku dan penisku yang masih terbenam di memeknya yang sudah orgasme ke dua kali, Lalu Bu Tika bangkit lagi jongkok diatasku dengan penisku yang masih di dalam vaginanya yang masih tegar, Dia naik turun diatasku sambil merem melek menikmati surga dunia, Sementara buah dadanya juga ikut naik turun akibat gerak naik turun memompa penisku, kali ini aku diam saja dengan menikmati.
Sesekali kali dimentokin penisku hingga menyentuh rahimnya sambil dia goyangin pantatnya ke kanan kekiri dan tak lama
“Ouuuuchhhh… sssssshhh…Ehhhhh ….ahhhhhhh”.
Penisku basah oleh cairan vaginanya yang orgasme yang ketiga kalinya. Bu tika ambruk di dadaku lagi dengan penisku yang masih menancap tegang di vaginanya,
“Mas ayo digoyang lagi”.
Aku langsung menaik turunkan pantatku, dengan gaya mompa naik turun, tiba tiba Bu Tika bangkit dan nungging sambil berpegangan sandaran sofa kasur, Akupun paham langsung mengarahkan penisku ke vaginanya dari belakang, aku genjot kencang tak pedulikan erangan dan racauan Bu Tika, ku remas kupukul pukul pantatnya
dan tak lama,
“Bu..aku mau keluaaaaaaar ni,”.
“Keluarin dalam aja gak papa,” jawab Bu Tika.
Crot crot croooooooooottttt crooooooooooooottttttt.
spermaku muncrat didalam Vaginanya Bu Tika, Dan penisku ku biarkan di vaginanya, Dan tidurku di pelukan Bu Tika dari belakang, kuciumi leharnya sambil kuremas gemas kedua buah dadanya.
“Emang gak apa apa Bu?” Tanyaku.
“Gak apa- apa mas, Tenang aja aku numpang ke kamar mandi dulu ya mas,” Bu tika.
Ku cabut penisku dan kupandangi goyangan pantatnya saat telanjang menuju kamar mandi yang mau bersih bersih, tak lama Bu Tika kembali dari kamar mandi dan selese bersih bersihnya,kupandangi buah dadanya yang menggelayut besar didadanya dan kubiarkan Bu Tika merapikan penampilannya lagi, sementara aku Cuma berihin pake tisu basah punya anakku untuk bersihin penisku dan kupakai lagi celana kolorku,
“Makasih ya Mas, Aku pulang dulu ya?”
Bilangnya sambil mengecup bibirku.
Hampir seminggu ga ada kabar, Pada hari minggu istriku ditelpon Bu Tika katanya hari ini jadwalnya imunisasi tahap 5. Istriku tak seperti biasa, hari itu mengajakku untuk imunisasi anakku dirumah praktek Bu Tika dan aku pun menggendong anakku, setelah diimunisasi pas mau pulang istriku kebelet pipis dan memohon ijin buat pipis di wc tempat praktek Bu Tika, Kesempatan itu Bu Tika bilang ke aku kalo dia udah telat mens, Aku kaget tapi Bu Tika malah tersenyum gembira.
Sesampainya dirumah aku berusaha menghilangkan pikiran, Bu Tika yang telat mens setelah berhubungan denganku, hampir tak bisa menghilangkan pikiran andai istriku tidak mengajak bersetubuh. Hari itu hari senin jam 4 sore aku pulang ke rumah dan seperti biasa aku melewati jalan pintas beraspal yang melintas melingkari rumah bu tika dari belakang sampai kedepan halaman rumahnya soalnya rumah Bu Tika terletak di pojok jalan komplek tempatku tinggal.
Ku lihat Bu Tika sedang membuang sampah dibelakang rumah dan melihatku melintas, dipanggilnya aku,
“Udah pulang mas koK tumben pake motor?” Sapanya.
“Iya Bu, lagi pengin naek motor aja biar irit” Jawabku sambil tersenyum.
“Mampir sini Mas, Mas Bram lembur lagi, cek dropan barang.”.
“GaK enak Bu takut dilihat orang nanti bisa celaka” Jawabku.
“Masukin aja motornya lewat dapurku Mas, Ayo mas, mau ya?” Pintanya sambil tersenyum genit.
“Yaudah deh Bu” Sahutku segera memasukkan motorku lewat dapur bu widi yang tembus ke garasi mobilnya.
Bu tika membuatkan satu gelas minuman kesukaanku dan ketika menyuguhkan minuman, Buah dadanya terpampang jelas di wajahku karna dia memakai kaos berkerah rendah, Langsung ku tarik tangannya hingga Bu Tika tersungkur ke arahku,
Kucium bibirnya dengan ganas, kukulum lidahnya dan kumainkan lidahku di rongga mulutnya, Bu Tika membalas pagutanku. begitu lama kami berciuman, Bu Tika melepaskan ciumannya,
“Diminum dulu Mas?”.
Akupun meminum es sirup dan kulihat Bu Tika membuka kaosnya dan terlihat jelas buah dadanya yang gede tanpa tersanggah BH, Es sirup rasa susu cap nona nih batinku. kuletakkan gelas minuman yang telah habis ku minum langsung ku remas-remas Buah dadanya yang gede yang ngganggur dihadapanku, Lalu ku kenyot kencang sampai Bu Tika melenguh, kuremas dan kupilintir putingnya yang sudah mengeras sementara itu Bu Tika juga sibuk melepas bajunya dan ternyata dia gak pake CD.
Akuu hentikan kenyotanku, kududukkan Bu Tika dan reflek kakinya langsung mengkangkang, kujilat memek dan klirotilnya dan bau khas memeknya, kumasukkan lidahku ke dalam memeknya sambil tanganku meremas kedua buah dadanya tanpa sadar Bu Tika mendesah menikmati lubang vaginanya ku jilati, Bu Tika menekan kepalaku ke memeknya hingga membuatku susah bernafas tapi kutahan karna aku terus menjilati vaginanya dan kuremas serta kupilin puting buah dadanya agar Bu Tika semakin dekat dengan kenikmatan orgasmenya,
“Aaaaaaaaaccchhhhhhhh…”.
Tubuhnya menggelinjang kuat ketika cairan wanitanya keluar membasahi vaginanya, Aku segera bangkit dan melepas celana jeansku beserta cd dan jaket yang kupakai, kubiarkan kaos tetap menempel ditubuhku, langsung penisku ku masukan ke vaginanya yang masih terlentang di sofa ruang keluarganya, kali ini dengan hati- hati soalnya Bu Tika sedang mengandung janin hasil hubunganku dengannya.
Perlahan namun pasti penisku masuk keliang vaginanya, Aku mulai memaju mundurkan pantatku dan lama lama mulai kupercepat dan gerakan majumundur atau penisku yang menusuk nusuk vaginanya yang sudah sangat basah, nampak Bu Tika juga ikut menggerak gerakan pantatnya mengimbangi gerakanku.
Ku remas kedua tbuah dadanya yang terombang ambing akibat gerakan pompa divaginanya, tangan Bu Tiika mencengkeram pantatku serasa membatuku memaju mundurkan penisku. Bu Tika mengejang, pahanya mengapit pingganggku kencang, Dia melenguh kencang dan peniskupun terasa cairan hangat vaginya Bu Tika yang sedang orgasme.
Bu Tika lemas tapi aku melanjutkan dan menggerakan gayaku terus kupercepat gerakanku dan tak lama penisku hendak mengeluarkan lahar panas, ditekannya pantatku dalam dalam dan kurasakan penisku mentok dirahimnya dan,
crooot croooot crooottt.. ahhhhhhhhhh.
Sepermaku meluncur deras di dalam vaginanya.
Masih kubiarkan penisku didalam vagina Bu Tika, kucium bibir Bu Tika dengan mesra,
“Makasih ya mas, ” candanya genit.
Aku tersenyum sambil mencubit putingnya, ku cabut penisku, tiba tiba dipegangnya penisku, dan dijilatnya dan dikulumnya hingga bersih, ngilu rasanya.
“Biar gak usah ke kamar mandi mas” timpal Bu Tika.
“Gak jijik sih bu?” tanyaku tersenyum.
“Enggaklah Mas” Jawabnya sambil makein cd ku, sebelum penisku dimasukkan ke cd, diciumi lagi penisku.
Kupake celana jeans dan jaketku sedang Bu Tika ke kamar mandi lalu mengambil bh dan cd, lalu dipakai dan memakai baju. Lanjut aku pamit pulang, dan mengambil motor dan keluar lewat garasi mobil.
Hari- hari selanjutnya tiap suaminya gak ada dirumah dan tiap ada kesempatan selalu melakukan hubungan seks sama Mas Edi.
Hal ini tanpa dicurigai suaminya karena Bu Tika juga selalu melayani suaminya meski katanya kurang puas, Aku juga selalu rutin tanpa mengurangi rasa dalam hubungan sexku dengan istriku.
Sedang pembantu Bu Tika datang kerumah Bu Tika hanya masak pagi siang malam dan bersih- bersih dipagi hari.
Cewek pemakai Gelang Kaki
makincrot.blogspot.my - Apakah kalau cewek pakai gelang kaki, artinya cewek tersebut nakal? Gelang di pergelangan kaki Friska menarik perhatiannya dari tadi. Dia teringat obrolan teman-temannya di dalam kelas beberapa waktu lalu. Katanya kalau cewek sudah nikah tapi pakai gelang kaki di kanan itu artinya swinger. Yang lain tidak tahu apa arti swinger. Jadi teman yang bilang pertama kali menjelaskan, swinger itu artinya sudah nikah tapi mau gituan sama orang lain. Tukaran suami/istri.
Anak-anak SMA itu sebagian melongo, sebagian lagi tertawa-tawa nakal. Dari dalam mobil itu, pemandangan terlihat gelap keruh karena kaca filmnya sangat gelap. Kalau ada orang lewat, dia tidak akan bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Tapi di tempat parkir yang sepi itu orang jarang lewat. Cuma ada dia dan Friska di dalam mobil. Friska membaca SMS yang masuk ke ponsel yang dipegang tangan kanannya.
“Suamiku nanya kapan pulang. Aku jawab sebentar lagi. Kalau kamu sebentar lagi apa masih lama…”
“…crotnya?”
Dia mengenal Friska sebagai sosok perempuan high class, jadi mendengar Friska berbicara seperti pelacur murahan membuat penisnya yang dipegang tangan kiri Friska jadi makin keras. Friska mulai mengocoknya lebih cepat sambil menaruh HP. Dia melihat kilatan cincin kawin di tangan kanan Friska. Dia mengulurkan tangan, mau menyentuh tubuh Friska, tapi Friska menampar tangan itu.
“Aku bilang kan tadi, jangan pegang-pegang…” kata Friska.
Friska berhenti mengocok, membungkuk, membuka bibir merahnya, menjulurkan lidah. Setitik mani di lubang di kepala burung dijilatnya.
“Kalau berani coba pegang lagi…” Friska menggenggam lagi HP-nya,
“aku telpon suamiku, terus kubilang aku mau diperkosa sama kamu. Suamiku kenal polisi, dan tau kamu itu siapa. Ngerti, Irzan?”
Dia, Irzan, menjawab dengan anggukan. Biarpun laki-laki, sebagai anak SMA wibawanya kalah dengan perempuan ini. Baru kali ini dia merasa terangsang sekaligus gentar.
“Bagus,” kata Friska dengan puas sambil mulai mengocok lagi.
“Kamu baru boleh nyentuh aku kalau kusuruh.” Dia lalu mengangkat tangan kanan ke depan mulut, memonyongkan sepasang bibirnya yang merah basah, dan meludah ke telapak tangannya.
“Cuh!” Friska kembali mengocok penis Irzan.
Terdengar bunyi becek dan Irzan merasa ada tekanan yang mulai terbentuk di dalam buah pelirnya. Dan dia cuma bisa bengong. Bengong melihat Friska memasturbasinya dengan tangan dan mulut Friska yang dekat sekali dari kejantanannya. Dan bibir indah itu pindah ke atas penisnya…
Friska menjilat lagi mani yang menitik. Sambil terus mengocok.
“Kita nggak punya banyak waktu, sebentar lagi Faisal datang ke sini. Jadi aku mau tanya langsung. Kamu mau masukin kontolmu ke dalam mulutku nggak?”
Irzan kaget mendengar santainya Friska menanyakan itu. Dia menjawab terbata-bata,
“I-i-iya.”
Tampaknya Friska suka jawaban itu. Dia bangkit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Irzan. Irzan merasakan nafas hangat Friska di telinganya selagi Friska berkata nakal,
“Itu yang kamu bayangin ya Irzan? Kalau kamu ke rumahku buat ketemu Faisal? Pengen kusentuh kayak gini? Kontolmu dikocokin?” Irzan mengangguk, memang itu yang ada di dalam pikirannya sejak dia pertama kali bertemu kakak temannya itu. Friska adalah kakaknya Faisal, teman sekolahnya. Masih muda, baru 27.
“Kamu pengen aku tempelin bibirku ke titit kamu? Pengen aku nelen batang kamu?” desis Friska di telinga Irzan.
Lagi-lagi Irzan cuma bisa mengangguk.
“Jawab yang benar, Irzan!” perintah Friska.
“Iya!” sembur Irzan.
“Iya apa?”
“Iya… Kak Friska, tolong isep kontolku!”
“Bagus. Gitu dong kalo jadi cowok, tegas, bilang apa yang dimauin. Satu lagi pertanyaannya. Jam berapa sekarang?”
“Heh? Kok nanya waktu?” Irzan bingung tapi dia otomatis berusaha mencari jawabannya.
Di mobil pasti ada jam digital. Dia menengok ke arah jam digital di dashboard lalu membaca angka-angka di sana.
“Jam setengah tigGAAAHH!??”
Friska tak menunggu jawaban dan langsung melahap kemaluan Irzan yang sedang membaca jam. Irzan menjerit kaget dan langsung menoleh ke bawah. Dan dia melihat pemandangan paling menakjubkan sepanjang hidupnya. Kepala penisnya dijepit bibir merah seksi Friska. Friska melepasnya lagi dan meninggalkan bekas lipstik di sana. Lalu Friska memasukkannya lagi dalam mulut, kali ini sampai setengah batang. Bibirnya mencengkeram erat lalu mulutnya mundur lagi. Hasilnya adalah noda merah seputar batang basah Irzan.
“Mmmh… enak nggak Irzan?” Friska bertanya sambil menatap Irzan. Jawabannya anggukan.
Friska kembali ke bawah dan kali ini mengenyot salah satu buah pelir Irzan. Disedot lalu dilepas seperti diludahkan. Kembali lipstiknya tertinggal di sana. Lalu Friska mulai menjilati seluruh permukaan batang Irzan. Tangannya menggenggam pangkal batang itu dan dia mulai menyepong. Bibirnya masih merah menyala, turun menyusuri batang, makin lama makin dekat dengan pangkal. Jarinya yang menggenggam pangkal batang ternoda merah ketika bertemu bibir itu.
Di jari yang lain, cincin kawin tampak berkilat menyilaukan mata Irzan. Kepala Friska naik turun memberi kenikmatan. Irzan jadi berpikir macam-macam. Posisinya benar-benar rawan. Celananya terbuka, dan kakak temannya sedang menyepong kemaluannya. Apa yang bakal terjadi kalau ada orang yang memergoki? Tapi Irzan juga merasa dia makin tak tahan. Birahinya sudah mau meluap. Dia sedikit lagi muncrat dalam mulut Friska, dan tidak ada lagi yang dipikirkannya! Dia mulai mendesah tak karuan.
“Agh… aah… Ungh… Ga… Tahaan!”
Dan tiba-tiba Friska meremas penisnya yang sudah mau menembak itu!
“Mau apa kamu, Irzan??” tantangnya.
“NGHH!! KAK!! MAU!! CROT!!” Irzan meracau karena sudah lepas kendali.
“Ayo crot di dalam mulutku Irzan! Crot-in mukaku! Bikin aku mandi peju!” Lalu Friska menyepong dengan ganasnya.
Dia memasukkan seluruh batang itu ke mulutnya, lalu naik turun dengan cepat”
“Aym crof ff dalmf! Crfin knfolm!” Kata-kata Friska tak kedengaran jelas lagi karena dia berusaha ngomong dengan mulut penuh.
“Ah! Ahh!! Kak! Aku! GA TAHANNN! DI DALAM!!” Mendadak gelora kenikmatan melanda dan Irzan merasakan senjatanya mulai menembak gencar di dalam mulut Friska.
Seluruh tubuh Irzan sampai melengkung dan mengejang ketika semburan demi semburan memancar kuat. Friska sepertinya menelan semuanya.
“NGGHHHAAA!!” jerit Irzan.
Friska mencengkeram pantat Irzan dan malah mendesakkan penis Irzan lebih jauh ke mulutnya. Semburan peju Irzan sepertinya terlalu banyak dan Friska tak cukup cepat menelannya, sehingga sebagiannya mengalir keluar. Friska lalu malah melepas kemaluan Irzan dari mulutnya dan mengocoki batang yang sedang menembak-nembak itu sambil menyemangati.
“Ya! Ayo crot lagi! Mandiin aku pake peju!”
Dan 2 semburan berikutnya mendarat di wajahnya, lalu di rambutnya. Akhirnya semburan-semburan itu reda dan Friska menjilati sisa-sisa yang mengalir di batang Irzan. Cipratan peju ada di mana-mana, di wajah dan tangan Friska, termasuk di atas cincin kawinnya. Sesudah lega mengeluarkan simpanannya, Irzan menengok ke arah jam lagi. 15.00. Jam tiga! Dan Faisal sudah terlihat berjalan ke arah mobil bersama beberapa teman lain! Tapi Friska lebih gesit bertindak.
“Ayo cepat pakai lagi celananya!” perintahnya, selagi dia sendiri menyambar tisu dan menyeka wajah.
“Kalau sudah, cepat keluar!”
Irzan buru-buru keluar dan bersembunyi. Tak lama kemudian Faisal, adik Friska, teman sekelasnya, sampai ke mobil Friska. Dari tempat persembunyiannya di balik semak, Irzan melihat Friska sudah bertingkah normal lagi. Dia melihat mobil itu pergi membawa Friska dan Faisal, lalu dia sendiri berjalan pulang. Di jalan, HP Irzan berbunyi. SMS. Dari Friska.
“wiken ini jangan kemana-mana. jangan coli.”
Irzan menelan ludah.
Mundur sedikit ke belakang dalam waktu.
Friska sebenarnya memang rada eksibisionis, jadi ketika Faisal adiknya mulai sering membawa teman-teman sekolahnya ke rumah, sisi eksibisionisnya terpancing. Meski belum tua-tua amat, Friska amat memperhatikan tubuhnya dan selalu merawat kecantikannya. Bukan demi suami; lebih karena dia sendiri menyukai kekaguman orang terhadap dirinya.
Suatu hari, ketika teman-teman Faisal sedang ada di rumah, kebetulan Friska yang sedang hanya memakai kaos tanktop dan celana pendek mendekati mereka untuk menyuguhkan cemilan. Penampilannya itu membuat anak-anak SMA itu terdiam dari obrolan mereka dan melongo. Ketika Friska membungkuk untuk menaruh cemilan, dia melihat seorang teman Faisal yang berada di depannya tidak bisa tidak menatap dengan penuh nafsu ke arah buah dadanya yang menggantung di balik baju.
Perempuan normal mestinya kaget dan marah tapi Friska merasa sesuatu yang beda. Dia malah berlama-lama membungkuk, memberi tontonan gratis kepada remaja itu. Dan dia memperhatikan, tanpa sadar tangan teman Faisal itu bergerak menyentuh selangkangan celananya sendiri. Sesudah selesai, Friska kembali ke kamarnya, mendapati kemaluannya basah karena terangsang, lalu bermasturbasi sampai orgasme. Teman Faisal itu adalah Irzan. Dan pengalaman pertama itu membuat Friska kecanduan, sehingga selanjutnya dia sering sengaja pamer tubuh kepada teman-teman Faisal. Suaminya biasanya tak di rumah ketika siang, jadi dia leluasa beraksi. Tiap dia melihat atau mendengar teman-teman Irzan sudah datang dan meramaikan rumah, cairan kewanitaannya terpancing mengalir.
Lalu dia pun akan menuju lemari baju, memilih satu baju seksi yang mengumbar belahan dadanya atau paha mulusnya atau bagian lain tubuhnya. Tak lupa memakai make-up untuk menambah daya tariknya. Dan dia kemudian bakal mencari-cari alasan untuk berjalan ke tengah mereka, entah itu membawakan cemilan, minum, mengambil HP yang kebetulan ada di tempat mereka duduk, bicara dengan Faisal, atau semacamnya. Dia menikmati ketika ekspresi wajah mereka berubah mesum, lalu mereka terdiam malu-malu karena tak bisa menghindar dari memelototi keseksiannya.
Sekali waktu, Friska berada di kamar saja, tidak menghampiri teman-teman Faisal. Tapi dia telanjang, duduk di depan meja rias dekat pintu, dan sengaja membuka pintu. Sebenarnya posisi pintu kamarnya tidak dekat dengan ruang tengah tempat Faisal dan teman-temannya biasa duduk, tapi kalau ada yang mau ke kamar mandi, pasti akan melewati pintu kamar Friska. Dari beberapa orang yang perlu ke kamar mandi, satu cukup iseng untuk mengintip ke celah pintu yang terbuka dan mendapat rezeki nomplok melihat tubuh telanjang Friska. Lagi-lagi, dia Irzan. Cukup lama Irzan berdiri termangu di depan pintu terbuka sampai Friska menengok ke arahnya, memergoki.
Irzan yang ketahuan buru-buru kembali ke depan, diiringi tawa cekikikan puas Friska. Sesudahnya Friska menghampiri mereka dengan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa, tapi dia sengaja memandangi Irzan dan melempar senyum mesum. Irzan serba salah. Malamnya Friska bercinta dengan suaminya sambil membayangkan teman-teman Faisal berdiri di seputar tempat tidur, menonton. Itu membuat dia orgasme duluan sebelum suaminya. Besok-besoknya, dia sempat menceletuk kepada teman-teman Faisal, terutama Irzan, bahwa dia sudah menganggap mereka adik-adiknya sendiri dan mereka
“boleh mampir kapan saja” dan dia senang “bisa menghibur mereka”. Kata-kata bersayap, jaring yang ditebar. Mereka semua menyambut baik keramahan Friska itu. Tapi yang menanggapi serius hanya satu, Irzan.
Kejadiannya dimulai pada suatu siang, ketika Irzan datang sendirian membawa sepeda motor ke rumah Faisal. Kebetulan Faisal pergi bersama teman-teman lain, tapi Irzan tidak tahu. Jadi dia hanya bertemu Friska.
“Faisal barusan jalan main futsal sama yang lain,” kata Friska.
“Mau nyusul?”
“Nggak ah Kak, lagi males,” kata Irzan.
“Yaudah, aku mau pulang aja ya.”
“Eeeh tunggu, Irzan,” Friska menahan Irzan.
“Kamu bawa motor kan? Kakak mau minta tolong boleh?”
“Boleh Kak. Ada perlu apa nih?” Irzan sumringah.
“Kakak sebenarnya mau ke salon, mau facial, tapi malas nyetir ke sana. Gimana kalau kamu yang nganterin Kakak ke sana pake motor?”
“Apa sih yang ga bisa buat Kakak,” Irzan menggombal.
“Kalau gitu tunggu sebentar ya.” Friska masuk kamar sebentar untuk bersiap, lalu keluar lagi.
Dia mengenakan tanktop gombrong hitam dan celana pendek, lalu memakai jaket. Wajahnya tak dirias dan rambutnya digerai biasa. Lalu dia naik ke boncengan motor Irzan dan mereka berangkat. Sepanjang jalan Irzan tidak konsentrasi karena hidungnya diserang wangi tubuh dan parfum Friska yang terus merapat ke tubuhnya. Apalagi Friska tak segan-segan merangkul Irzan. Friska bilang Faisal baru mau pulang sore. Masih lama. Main futsal minimal 2 jam, belum istirahat makan-minum dan nongkrongnya. Dan Irzan terbuai nada suara Friska yang genit menggoda. Sampai di salon, Friska kemudian bertanya ke Irzan.
“Mau pulang… apa kamu mau nungguin Kakak?”
“…Aku tungguin aja deh kak, ga ada acara juga siang ini.”
“Kamu baik deh. Nanti Kakak kasih hadiah~!” celetuk Friska genit sambil memasuki salon.
Saat itu juga Irzan memperhatikan gelang kaki yang bergemerincing di pergelangan Friska.
Salon yang didatangi Friska itu bukan salon kecil murahan. Menengah atas. Mungkin perawatan di sana bernilai ratusan ribu rupiah, pikir Irzan. Tidak heran, keluarga Faisal dan Friska tergolong mampu. Satu jam kemudian Friska keluar dari salon. Wajahnya kemerahan, bekas facial.
“Lama ya nunggunya? Ayo kita pulang,” ajak Friska.
Sepanjang perjalanan pulang, Irzan kembali merasa Friska merangkul erat tubuhnya. Dan rangkulannya… di perut. Seiring berjalannya motor, makin lama makin turun. Irzan terangsang dan ereksi. Mungkin Friska juga menyadari itu. Sesampainya di rumah, Friska meminta Irzan jangan langsung pergi. Faisal dan teman-teman yang lain belum muncul.
“Ada yang mau Kakak tanya, tapi tunggu sebentar ya? Duduk aja dulu.”
Irzan kemudian duduk sendirian di ruang tengah rumah besar itu, sementara Friska menghilang ke kamarnya. Tak lama kemudian Friska kembali lagi membawa beberapa barang tipis.
“Kamu tahu ini apa kan?” Friska duduk di sebelah Irzan dan menunjukkan beberapa DVD yang sampulnya bergambar perempuan seksi.
“Ehm… iya?” Irzan bingung.
“Ini Kakak sita dari Faisal. Tapi dia bilang ini punya temannya. Punya kamu bukan?”
“Bukan… Ga tau punya siapa. Punya Putra atau Endi kali’?” kata Irzan. “Yang paling suka beginian tuh anak dua.”
“Udah mulai nakal ya kalian… Emangnya apa sih yang ditonton dari filem kayak gini? Kakak pengen tau. Ayo kita lihat.”
“Hah? Eh tapi Kak Friska…”
Sebelum Irzan bereaksi, Friska sudah menyalakan DVD player dan memasukkan salah satu DVD porno itu. Sebenarnya DVD itu bukan diambil dari Faisal, melainkan koleksi Friska dan suaminya. Friska memang mau mengerjai Irzan. Irzan mau bangun untuk pergi, tapi Friska memegangi lengannya. Jadilah dia terpaksa ikut menyaksikan. Irzan sendiri belum pernah melihat film porno yang sedang tayang di layar TV itu, walaupun dia sudah familiar dengan materi pornografi.
“Waah, ternyata kalian sukanya yang kayak gini yaa… Yang ceweknya lebih tua?”
Film yang ditayangkan memang berskenario seperti itu, aktris pornonya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menggoda teman anaknya. Meski tidak muda, si aktris tetap tampak glamor dan seksi dengan rambut pirang, kalung mutiara, bra berenda, dan lipstik pink tebal. Dan Irzan baru memperhatikan bahwa bibir Friska sudah bersaput lipstik pink juga. Di TV, bibir berwarna sama sedang mengulum penis. Irzan merasa kemaluannya sendiri mengeras dan… digerayangi.
“Hmmm…” gumam Friska.
“Kok ini jadi keras…? Gara-gara nonton itu ya?”
“Uhhh… Kak…” Irzan tidak berani berbuat apa-apa ketika Friska membuka resleting celananya.
Tangan Friska terus beraksi menurunkan celana dalamnya dan akhirnya kulit bertemu kulit, tangan bertemu batang. Irzan seperti kesetrum ketika merasakan itu. Elusan tangan Friska menggodanya.
“Dasar cowok… Zan, kamu pernah coli nggak~?” tanya Friska nakal.
“Ngh… per… nah…” Irzan menjawab sambil menahan nafsu. Friska terus menggodanya.
“Kalau dicoli’in?”
“Be… bel… lum…”
Tayangan film porno menampilkan si aktris menerima ejakulasi lawan mainnya di wajah.
“Kamu lihat kan… tuh dia dicoli’in sama ibunya temennya… Tante-tante aja bisa bikin ngaceng kayak gitu… Kamu ngaceng juga ngelihat dia?…”
Irzan sudah meracau tak jelas.
“Kamu ngaceng ngelihat aku?”
“NGHHH!!” Jawabannya adalah semburan mani yang hebat dari kejantanan Irzan.
Irzan jelas merasa keenakan dengan orgasme itu. Sekaligus bingung dan sedikit takut. Tapi yang terlihat lebih puas adalah Friska.
“Iihh. Banyak dan kentel peju kamu. Pasti udah lama gak crot.”
Irzan cuma melongo bego. Friska memain-mainkan cairan kental yang mengotori jarinya itu, bahkan menjilatnya.
“Enak?” tanya Friska.
“Iiyah,” jawab Irzan pendek.
“Mau lagi?”
“…” Irzan tidak berani menjawab yang itu.
“Kalau kamu mau lagi, mulai sekarang kamu harus ikut apa kata Kakak ya. Sekarang… cepat pulang. Faisal pasti sebentar lagi datang. Ayo sana!”
Irzan buru-buru membetulkan pakaiannya dan bergegas keluar. Friska mengantarnya keluar dengan senyum nakal.
Sesudah itu, Irzan dan Friska beberapa kali lagi bertemu berduaan saja, paling sering di rumah Friska sendiri, kalau sedang tak ada orang. Irzan sendiri tetap nongkrong bareng Faisal dan Friska tetap kadang tampil di depan mereka, tapi tidak ada yang tahu hubungan mereka. Yang dilakukan tetap sebatas Friska memasturbasi Irzan, dengan tangan, dan satu kali dengan kaki. Adegan di atas, pada waktu Friska mau menjemput Faisal dengan mobil dan Irzan menemuinya, adalah pertama kalinya Friska memberi oral seks kepada Irzan. Mereka berdua belum pernah berhubungan seks biasa. Walaupun Irzan penasaran dan dia sudah berkali-kali digoda oleh Friska, kakak temannya itu selalu membuatnya tak berdaya dan tak mampu meminta lebih. Namun lama-lama Irzan gemas juga. Makin hari dia makin ingin melampiaskan nafsunya kepada perempuan penggoda itu.
Kejadiannya pada suatu siang. Irzan bersimbah keringat dingin. Di depannya, Friska akhirnya berhenti meronta dan telentang pasrah. Pergelangan tangannya terikat, wajahnya terlihat gentar.
“Kamu kenapa gini, Zan… Kenapa kamu giniin Kakak?” tanya Friska.
Saat itu kakak teman Irzan itu mengenakan babydoll tipis. Irzan mengangkang di atas paha Friska yang terbaring di ranjangnya.
“Kenapa? Kakak ga pernah berhenti godain aku… Aku sudah ga tahan!” seru Irzan gusar.
Tangannya menjamah payudara kanan Friska dan meremasnya. “Sekarang Kakak ga bisa ngelarang aku lagi…”
Tadi, ketika dia baru datang, seperti biasa Friska menggoda dan mempermainkannya… tapi kali ini muncul keberaniannya untuk melawan dan meringkus Friska. Irzan lebih besar dan kuat, jadi tidak sulit untuknya. Dia juga menemukan tali yang dipakainya mengikat kedua pergelangan tangan Friska ke ranjang.
“Sekarang kita main semauku,” kata Irzan dingin.
Dia menyingkap baju Friska, mengungkap sepasang payudaranya. Lalu dia sendiri memelorotkan celana dan memamerkan penis ereksinya di depan mata Friska yang melotot.
“Ayo Kak. Kakak suka kontolku kan?” suruh Irzan.
Dia merangsek maju, mencengkeram kepala Friska, dan memaksa Friska mengoral kemaluannya.
“Ah? Afhmmm!!” keluh Friska yang tiba-tiba mesti melahap rudal.
“Sekarang ayo isep kontolku! Enak kan Kak? Enak?” seru Irzan, puas.
“Ahpf! Nn!!” Mata Friska sampai berkaca-kaca karena kasarnya sodokan Irzan.
Tiba-tiba Friska merasa jari-jari Irzan merambah kemaluannya. Mereka berdua cukup sering nonton film porno bersama sehingga Irzan sekarang tahu berbagai macam aksi seks.
“Kakak dientot bibirnya kok memeknya basah? Suka ya dibegini’in?” tuduh Irzan.
“Kalau gitu pasti suka minum peju juga kan? HnghhH!!”
Penis Irzan meledak dalam mulut Friska, menyemburkan cairan peju. Sampai tumpah sebagian keluar, barulah Irzan menarik keluar kejantanannya dari sana.
“Ehh… Auh…” Friska mengambil nafas.
Tapi Irzan belum puas, dia melihat ada satu lagi tempat untuk melampiaskan nafsunya.
“Kak Friska,” kata Irzan,
“Yang di bawah itu pengen dimasukin juga ya?”
Dia menarik Friska supaya berposisi duduk lalu pindah ke belakang Friska. Dia sudah cukup sering disuruh-suruh Friska dan dia ingin membalas. Kini tangan kanannya merogoh ke selangkangan Friska dan mencubiti klitoris Friska. Tangan satunya lagi memegangi ikatan tangan Friska agar tak menghalangi.
“Kalau Kak Friska mau, ayo bilang. Bilang Kak Friska pengen.
“Oh! Ooh! Ihh!” Friska mengerang-erang keenakan karena klitorisnya dimainkan.
“Mauuhh… ihh… uhh…” pinta Friska.
“Bilang yang jelas… Yang keras!” perintah Irzan.
“Masukin… masukin kontolmu ke memek Kakak…” kata Friska.
Irzan langsung mendorong Friska sehingga berposisi nungging. Di belakang pantat yang menggoda itu Irzan menahan nafas, memegangi penisnya yang keras… Dia sudah cukup sering menonton di film, sekarang dia akan mencobanya sendiri. Zrepp…Irzan merasakan hangat basahnya liang kewanitaan Friska untuk pertama kali. Perempuan itu merintih-rintih ditusuk kejantanan Irzan dari belakang, dan Irzan memasukinya makin dalam sampai tak bisa maju lagi. Lalu dia mulai menggenjot.
“Ahn! Ah! Enak…!” Friska jelas-jelas menikmati perlakuan Irzan, biarpun sebenarnya dia dipaksa oleh Irzan. “Dalem banget… zan! Enakh…! Ah!”
“Kakak suka kan?! Ngentot sama aku enak kan!” kata Irzan dengan gemas sambil dia menancap-nancapkan senjatanya ke liang kenikmatan itu.
“Ahh! Iyaa! Suka! Suka kontol Irzaann!” Friska sudah menyerahkan tubuhnya untuk diapakan saja oleh teman adiknya itu. “Enak! Nghh! Aduh ga tahan! Mau… mauu…”
“AA~HHH!!” Jerit panjang Friska dan tubuhnya yang menegang karena orgasme lalu bergetar mengagetkan Irzan, yang kemudian kehilangan kendali juga dan ikut berorgasme di dalam vagina Friska.
“Hmm!” Friska yang bangkit lebih awal sesudah keduanya ambruk kelelahan, wajahnya terlihat ceria. Irzan bingung.
“Hihihi, nggak kira kamu bisa kasar juga akhirnya! Tau nggak, enak tuh dientot paksa kayak tadi. Pancinganku berhasil juga,” kata Friska. Irzan bengong.
Rupanya selama ini Friska memancing-mancing dia supaya dia tak tahan dan berbuat kelewatan.
“Kapan-kapan kamu harus bisa ganas seperti tadi ya Zan?” kata Friska sambil mencium pipi Irzan dengan genit.
Irzan cuma bisa melengos. Pada akhirnya dia tetap jadi mainan…
Anak-anak SMA itu sebagian melongo, sebagian lagi tertawa-tawa nakal. Dari dalam mobil itu, pemandangan terlihat gelap keruh karena kaca filmnya sangat gelap. Kalau ada orang lewat, dia tidak akan bisa melihat apa yang terjadi di dalam. Tapi di tempat parkir yang sepi itu orang jarang lewat. Cuma ada dia dan Friska di dalam mobil. Friska membaca SMS yang masuk ke ponsel yang dipegang tangan kanannya.
“Suamiku nanya kapan pulang. Aku jawab sebentar lagi. Kalau kamu sebentar lagi apa masih lama…”
“…crotnya?”
Dia mengenal Friska sebagai sosok perempuan high class, jadi mendengar Friska berbicara seperti pelacur murahan membuat penisnya yang dipegang tangan kiri Friska jadi makin keras. Friska mulai mengocoknya lebih cepat sambil menaruh HP. Dia melihat kilatan cincin kawin di tangan kanan Friska. Dia mengulurkan tangan, mau menyentuh tubuh Friska, tapi Friska menampar tangan itu.
“Aku bilang kan tadi, jangan pegang-pegang…” kata Friska.
Friska berhenti mengocok, membungkuk, membuka bibir merahnya, menjulurkan lidah. Setitik mani di lubang di kepala burung dijilatnya.
“Kalau berani coba pegang lagi…” Friska menggenggam lagi HP-nya,
“aku telpon suamiku, terus kubilang aku mau diperkosa sama kamu. Suamiku kenal polisi, dan tau kamu itu siapa. Ngerti, Irzan?”
Dia, Irzan, menjawab dengan anggukan. Biarpun laki-laki, sebagai anak SMA wibawanya kalah dengan perempuan ini. Baru kali ini dia merasa terangsang sekaligus gentar.
“Bagus,” kata Friska dengan puas sambil mulai mengocok lagi.
“Kamu baru boleh nyentuh aku kalau kusuruh.” Dia lalu mengangkat tangan kanan ke depan mulut, memonyongkan sepasang bibirnya yang merah basah, dan meludah ke telapak tangannya.
“Cuh!” Friska kembali mengocok penis Irzan.
Terdengar bunyi becek dan Irzan merasa ada tekanan yang mulai terbentuk di dalam buah pelirnya. Dan dia cuma bisa bengong. Bengong melihat Friska memasturbasinya dengan tangan dan mulut Friska yang dekat sekali dari kejantanannya. Dan bibir indah itu pindah ke atas penisnya…
Friska menjilat lagi mani yang menitik. Sambil terus mengocok.
“Kita nggak punya banyak waktu, sebentar lagi Faisal datang ke sini. Jadi aku mau tanya langsung. Kamu mau masukin kontolmu ke dalam mulutku nggak?”
Irzan kaget mendengar santainya Friska menanyakan itu. Dia menjawab terbata-bata,
“I-i-iya.”
Tampaknya Friska suka jawaban itu. Dia bangkit dan mendekatkan bibirnya ke telinga Irzan. Irzan merasakan nafas hangat Friska di telinganya selagi Friska berkata nakal,
“Itu yang kamu bayangin ya Irzan? Kalau kamu ke rumahku buat ketemu Faisal? Pengen kusentuh kayak gini? Kontolmu dikocokin?” Irzan mengangguk, memang itu yang ada di dalam pikirannya sejak dia pertama kali bertemu kakak temannya itu. Friska adalah kakaknya Faisal, teman sekolahnya. Masih muda, baru 27.
“Kamu pengen aku tempelin bibirku ke titit kamu? Pengen aku nelen batang kamu?” desis Friska di telinga Irzan.
Lagi-lagi Irzan cuma bisa mengangguk.
“Jawab yang benar, Irzan!” perintah Friska.
“Iya!” sembur Irzan.
“Iya apa?”
“Iya… Kak Friska, tolong isep kontolku!”
“Bagus. Gitu dong kalo jadi cowok, tegas, bilang apa yang dimauin. Satu lagi pertanyaannya. Jam berapa sekarang?”
“Heh? Kok nanya waktu?” Irzan bingung tapi dia otomatis berusaha mencari jawabannya.
Di mobil pasti ada jam digital. Dia menengok ke arah jam digital di dashboard lalu membaca angka-angka di sana.
“Jam setengah tigGAAAHH!??”
Friska tak menunggu jawaban dan langsung melahap kemaluan Irzan yang sedang membaca jam. Irzan menjerit kaget dan langsung menoleh ke bawah. Dan dia melihat pemandangan paling menakjubkan sepanjang hidupnya. Kepala penisnya dijepit bibir merah seksi Friska. Friska melepasnya lagi dan meninggalkan bekas lipstik di sana. Lalu Friska memasukkannya lagi dalam mulut, kali ini sampai setengah batang. Bibirnya mencengkeram erat lalu mulutnya mundur lagi. Hasilnya adalah noda merah seputar batang basah Irzan.
“Mmmh… enak nggak Irzan?” Friska bertanya sambil menatap Irzan. Jawabannya anggukan.
Friska kembali ke bawah dan kali ini mengenyot salah satu buah pelir Irzan. Disedot lalu dilepas seperti diludahkan. Kembali lipstiknya tertinggal di sana. Lalu Friska mulai menjilati seluruh permukaan batang Irzan. Tangannya menggenggam pangkal batang itu dan dia mulai menyepong. Bibirnya masih merah menyala, turun menyusuri batang, makin lama makin dekat dengan pangkal. Jarinya yang menggenggam pangkal batang ternoda merah ketika bertemu bibir itu.
Di jari yang lain, cincin kawin tampak berkilat menyilaukan mata Irzan. Kepala Friska naik turun memberi kenikmatan. Irzan jadi berpikir macam-macam. Posisinya benar-benar rawan. Celananya terbuka, dan kakak temannya sedang menyepong kemaluannya. Apa yang bakal terjadi kalau ada orang yang memergoki? Tapi Irzan juga merasa dia makin tak tahan. Birahinya sudah mau meluap. Dia sedikit lagi muncrat dalam mulut Friska, dan tidak ada lagi yang dipikirkannya! Dia mulai mendesah tak karuan.
“Agh… aah… Ungh… Ga… Tahaan!”
Dan tiba-tiba Friska meremas penisnya yang sudah mau menembak itu!
“Mau apa kamu, Irzan??” tantangnya.
“NGHH!! KAK!! MAU!! CROT!!” Irzan meracau karena sudah lepas kendali.
“Ayo crot di dalam mulutku Irzan! Crot-in mukaku! Bikin aku mandi peju!” Lalu Friska menyepong dengan ganasnya.
Dia memasukkan seluruh batang itu ke mulutnya, lalu naik turun dengan cepat”
“Aym crof ff dalmf! Crfin knfolm!” Kata-kata Friska tak kedengaran jelas lagi karena dia berusaha ngomong dengan mulut penuh.
“Ah! Ahh!! Kak! Aku! GA TAHANNN! DI DALAM!!” Mendadak gelora kenikmatan melanda dan Irzan merasakan senjatanya mulai menembak gencar di dalam mulut Friska.
Seluruh tubuh Irzan sampai melengkung dan mengejang ketika semburan demi semburan memancar kuat. Friska sepertinya menelan semuanya.
“NGGHHHAAA!!” jerit Irzan.
Friska mencengkeram pantat Irzan dan malah mendesakkan penis Irzan lebih jauh ke mulutnya. Semburan peju Irzan sepertinya terlalu banyak dan Friska tak cukup cepat menelannya, sehingga sebagiannya mengalir keluar. Friska lalu malah melepas kemaluan Irzan dari mulutnya dan mengocoki batang yang sedang menembak-nembak itu sambil menyemangati.
“Ya! Ayo crot lagi! Mandiin aku pake peju!”
Dan 2 semburan berikutnya mendarat di wajahnya, lalu di rambutnya. Akhirnya semburan-semburan itu reda dan Friska menjilati sisa-sisa yang mengalir di batang Irzan. Cipratan peju ada di mana-mana, di wajah dan tangan Friska, termasuk di atas cincin kawinnya. Sesudah lega mengeluarkan simpanannya, Irzan menengok ke arah jam lagi. 15.00. Jam tiga! Dan Faisal sudah terlihat berjalan ke arah mobil bersama beberapa teman lain! Tapi Friska lebih gesit bertindak.
“Ayo cepat pakai lagi celananya!” perintahnya, selagi dia sendiri menyambar tisu dan menyeka wajah.
“Kalau sudah, cepat keluar!”
Irzan buru-buru keluar dan bersembunyi. Tak lama kemudian Faisal, adik Friska, teman sekelasnya, sampai ke mobil Friska. Dari tempat persembunyiannya di balik semak, Irzan melihat Friska sudah bertingkah normal lagi. Dia melihat mobil itu pergi membawa Friska dan Faisal, lalu dia sendiri berjalan pulang. Di jalan, HP Irzan berbunyi. SMS. Dari Friska.
“wiken ini jangan kemana-mana. jangan coli.”
Irzan menelan ludah.
Mundur sedikit ke belakang dalam waktu.
Friska sebenarnya memang rada eksibisionis, jadi ketika Faisal adiknya mulai sering membawa teman-teman sekolahnya ke rumah, sisi eksibisionisnya terpancing. Meski belum tua-tua amat, Friska amat memperhatikan tubuhnya dan selalu merawat kecantikannya. Bukan demi suami; lebih karena dia sendiri menyukai kekaguman orang terhadap dirinya.
Suatu hari, ketika teman-teman Faisal sedang ada di rumah, kebetulan Friska yang sedang hanya memakai kaos tanktop dan celana pendek mendekati mereka untuk menyuguhkan cemilan. Penampilannya itu membuat anak-anak SMA itu terdiam dari obrolan mereka dan melongo. Ketika Friska membungkuk untuk menaruh cemilan, dia melihat seorang teman Faisal yang berada di depannya tidak bisa tidak menatap dengan penuh nafsu ke arah buah dadanya yang menggantung di balik baju.
Perempuan normal mestinya kaget dan marah tapi Friska merasa sesuatu yang beda. Dia malah berlama-lama membungkuk, memberi tontonan gratis kepada remaja itu. Dan dia memperhatikan, tanpa sadar tangan teman Faisal itu bergerak menyentuh selangkangan celananya sendiri. Sesudah selesai, Friska kembali ke kamarnya, mendapati kemaluannya basah karena terangsang, lalu bermasturbasi sampai orgasme. Teman Faisal itu adalah Irzan. Dan pengalaman pertama itu membuat Friska kecanduan, sehingga selanjutnya dia sering sengaja pamer tubuh kepada teman-teman Faisal. Suaminya biasanya tak di rumah ketika siang, jadi dia leluasa beraksi. Tiap dia melihat atau mendengar teman-teman Irzan sudah datang dan meramaikan rumah, cairan kewanitaannya terpancing mengalir.
Lalu dia pun akan menuju lemari baju, memilih satu baju seksi yang mengumbar belahan dadanya atau paha mulusnya atau bagian lain tubuhnya. Tak lupa memakai make-up untuk menambah daya tariknya. Dan dia kemudian bakal mencari-cari alasan untuk berjalan ke tengah mereka, entah itu membawakan cemilan, minum, mengambil HP yang kebetulan ada di tempat mereka duduk, bicara dengan Faisal, atau semacamnya. Dia menikmati ketika ekspresi wajah mereka berubah mesum, lalu mereka terdiam malu-malu karena tak bisa menghindar dari memelototi keseksiannya.
Sekali waktu, Friska berada di kamar saja, tidak menghampiri teman-teman Faisal. Tapi dia telanjang, duduk di depan meja rias dekat pintu, dan sengaja membuka pintu. Sebenarnya posisi pintu kamarnya tidak dekat dengan ruang tengah tempat Faisal dan teman-temannya biasa duduk, tapi kalau ada yang mau ke kamar mandi, pasti akan melewati pintu kamar Friska. Dari beberapa orang yang perlu ke kamar mandi, satu cukup iseng untuk mengintip ke celah pintu yang terbuka dan mendapat rezeki nomplok melihat tubuh telanjang Friska. Lagi-lagi, dia Irzan. Cukup lama Irzan berdiri termangu di depan pintu terbuka sampai Friska menengok ke arahnya, memergoki.
Irzan yang ketahuan buru-buru kembali ke depan, diiringi tawa cekikikan puas Friska. Sesudahnya Friska menghampiri mereka dengan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa, tapi dia sengaja memandangi Irzan dan melempar senyum mesum. Irzan serba salah. Malamnya Friska bercinta dengan suaminya sambil membayangkan teman-teman Faisal berdiri di seputar tempat tidur, menonton. Itu membuat dia orgasme duluan sebelum suaminya. Besok-besoknya, dia sempat menceletuk kepada teman-teman Faisal, terutama Irzan, bahwa dia sudah menganggap mereka adik-adiknya sendiri dan mereka
“boleh mampir kapan saja” dan dia senang “bisa menghibur mereka”. Kata-kata bersayap, jaring yang ditebar. Mereka semua menyambut baik keramahan Friska itu. Tapi yang menanggapi serius hanya satu, Irzan.
Kejadiannya dimulai pada suatu siang, ketika Irzan datang sendirian membawa sepeda motor ke rumah Faisal. Kebetulan Faisal pergi bersama teman-teman lain, tapi Irzan tidak tahu. Jadi dia hanya bertemu Friska.
“Faisal barusan jalan main futsal sama yang lain,” kata Friska.
“Mau nyusul?”
“Nggak ah Kak, lagi males,” kata Irzan.
“Yaudah, aku mau pulang aja ya.”
“Eeeh tunggu, Irzan,” Friska menahan Irzan.
“Kamu bawa motor kan? Kakak mau minta tolong boleh?”
“Boleh Kak. Ada perlu apa nih?” Irzan sumringah.
“Kakak sebenarnya mau ke salon, mau facial, tapi malas nyetir ke sana. Gimana kalau kamu yang nganterin Kakak ke sana pake motor?”
“Apa sih yang ga bisa buat Kakak,” Irzan menggombal.
“Kalau gitu tunggu sebentar ya.” Friska masuk kamar sebentar untuk bersiap, lalu keluar lagi.
Dia mengenakan tanktop gombrong hitam dan celana pendek, lalu memakai jaket. Wajahnya tak dirias dan rambutnya digerai biasa. Lalu dia naik ke boncengan motor Irzan dan mereka berangkat. Sepanjang jalan Irzan tidak konsentrasi karena hidungnya diserang wangi tubuh dan parfum Friska yang terus merapat ke tubuhnya. Apalagi Friska tak segan-segan merangkul Irzan. Friska bilang Faisal baru mau pulang sore. Masih lama. Main futsal minimal 2 jam, belum istirahat makan-minum dan nongkrongnya. Dan Irzan terbuai nada suara Friska yang genit menggoda. Sampai di salon, Friska kemudian bertanya ke Irzan.
“Mau pulang… apa kamu mau nungguin Kakak?”
“…Aku tungguin aja deh kak, ga ada acara juga siang ini.”
“Kamu baik deh. Nanti Kakak kasih hadiah~!” celetuk Friska genit sambil memasuki salon.
Saat itu juga Irzan memperhatikan gelang kaki yang bergemerincing di pergelangan Friska.
Salon yang didatangi Friska itu bukan salon kecil murahan. Menengah atas. Mungkin perawatan di sana bernilai ratusan ribu rupiah, pikir Irzan. Tidak heran, keluarga Faisal dan Friska tergolong mampu. Satu jam kemudian Friska keluar dari salon. Wajahnya kemerahan, bekas facial.
“Lama ya nunggunya? Ayo kita pulang,” ajak Friska.
Sepanjang perjalanan pulang, Irzan kembali merasa Friska merangkul erat tubuhnya. Dan rangkulannya… di perut. Seiring berjalannya motor, makin lama makin turun. Irzan terangsang dan ereksi. Mungkin Friska juga menyadari itu. Sesampainya di rumah, Friska meminta Irzan jangan langsung pergi. Faisal dan teman-teman yang lain belum muncul.
“Ada yang mau Kakak tanya, tapi tunggu sebentar ya? Duduk aja dulu.”
Irzan kemudian duduk sendirian di ruang tengah rumah besar itu, sementara Friska menghilang ke kamarnya. Tak lama kemudian Friska kembali lagi membawa beberapa barang tipis.
“Kamu tahu ini apa kan?” Friska duduk di sebelah Irzan dan menunjukkan beberapa DVD yang sampulnya bergambar perempuan seksi.
“Ehm… iya?” Irzan bingung.
“Ini Kakak sita dari Faisal. Tapi dia bilang ini punya temannya. Punya kamu bukan?”
“Bukan… Ga tau punya siapa. Punya Putra atau Endi kali’?” kata Irzan. “Yang paling suka beginian tuh anak dua.”
“Udah mulai nakal ya kalian… Emangnya apa sih yang ditonton dari filem kayak gini? Kakak pengen tau. Ayo kita lihat.”
“Hah? Eh tapi Kak Friska…”
Sebelum Irzan bereaksi, Friska sudah menyalakan DVD player dan memasukkan salah satu DVD porno itu. Sebenarnya DVD itu bukan diambil dari Faisal, melainkan koleksi Friska dan suaminya. Friska memang mau mengerjai Irzan. Irzan mau bangun untuk pergi, tapi Friska memegangi lengannya. Jadilah dia terpaksa ikut menyaksikan. Irzan sendiri belum pernah melihat film porno yang sedang tayang di layar TV itu, walaupun dia sudah familiar dengan materi pornografi.
“Waah, ternyata kalian sukanya yang kayak gini yaa… Yang ceweknya lebih tua?”
Film yang ditayangkan memang berskenario seperti itu, aktris pornonya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menggoda teman anaknya. Meski tidak muda, si aktris tetap tampak glamor dan seksi dengan rambut pirang, kalung mutiara, bra berenda, dan lipstik pink tebal. Dan Irzan baru memperhatikan bahwa bibir Friska sudah bersaput lipstik pink juga. Di TV, bibir berwarna sama sedang mengulum penis. Irzan merasa kemaluannya sendiri mengeras dan… digerayangi.
“Hmmm…” gumam Friska.
“Kok ini jadi keras…? Gara-gara nonton itu ya?”
“Uhhh… Kak…” Irzan tidak berani berbuat apa-apa ketika Friska membuka resleting celananya.
Tangan Friska terus beraksi menurunkan celana dalamnya dan akhirnya kulit bertemu kulit, tangan bertemu batang. Irzan seperti kesetrum ketika merasakan itu. Elusan tangan Friska menggodanya.
“Dasar cowok… Zan, kamu pernah coli nggak~?” tanya Friska nakal.
“Ngh… per… nah…” Irzan menjawab sambil menahan nafsu. Friska terus menggodanya.
“Kalau dicoli’in?”
“Be… bel… lum…”
Tayangan film porno menampilkan si aktris menerima ejakulasi lawan mainnya di wajah.
“Kamu lihat kan… tuh dia dicoli’in sama ibunya temennya… Tante-tante aja bisa bikin ngaceng kayak gitu… Kamu ngaceng juga ngelihat dia?…”
Irzan sudah meracau tak jelas.
“Kamu ngaceng ngelihat aku?”
“NGHHH!!” Jawabannya adalah semburan mani yang hebat dari kejantanan Irzan.
Irzan jelas merasa keenakan dengan orgasme itu. Sekaligus bingung dan sedikit takut. Tapi yang terlihat lebih puas adalah Friska.
“Iihh. Banyak dan kentel peju kamu. Pasti udah lama gak crot.”
Irzan cuma melongo bego. Friska memain-mainkan cairan kental yang mengotori jarinya itu, bahkan menjilatnya.
“Enak?” tanya Friska.
“Iiyah,” jawab Irzan pendek.
“Mau lagi?”
“…” Irzan tidak berani menjawab yang itu.
“Kalau kamu mau lagi, mulai sekarang kamu harus ikut apa kata Kakak ya. Sekarang… cepat pulang. Faisal pasti sebentar lagi datang. Ayo sana!”
Irzan buru-buru membetulkan pakaiannya dan bergegas keluar. Friska mengantarnya keluar dengan senyum nakal.
Sesudah itu, Irzan dan Friska beberapa kali lagi bertemu berduaan saja, paling sering di rumah Friska sendiri, kalau sedang tak ada orang. Irzan sendiri tetap nongkrong bareng Faisal dan Friska tetap kadang tampil di depan mereka, tapi tidak ada yang tahu hubungan mereka. Yang dilakukan tetap sebatas Friska memasturbasi Irzan, dengan tangan, dan satu kali dengan kaki. Adegan di atas, pada waktu Friska mau menjemput Faisal dengan mobil dan Irzan menemuinya, adalah pertama kalinya Friska memberi oral seks kepada Irzan. Mereka berdua belum pernah berhubungan seks biasa. Walaupun Irzan penasaran dan dia sudah berkali-kali digoda oleh Friska, kakak temannya itu selalu membuatnya tak berdaya dan tak mampu meminta lebih. Namun lama-lama Irzan gemas juga. Makin hari dia makin ingin melampiaskan nafsunya kepada perempuan penggoda itu.
Kejadiannya pada suatu siang. Irzan bersimbah keringat dingin. Di depannya, Friska akhirnya berhenti meronta dan telentang pasrah. Pergelangan tangannya terikat, wajahnya terlihat gentar.
“Kamu kenapa gini, Zan… Kenapa kamu giniin Kakak?” tanya Friska.
Saat itu kakak teman Irzan itu mengenakan babydoll tipis. Irzan mengangkang di atas paha Friska yang terbaring di ranjangnya.
“Kenapa? Kakak ga pernah berhenti godain aku… Aku sudah ga tahan!” seru Irzan gusar.
Tangannya menjamah payudara kanan Friska dan meremasnya. “Sekarang Kakak ga bisa ngelarang aku lagi…”
Tadi, ketika dia baru datang, seperti biasa Friska menggoda dan mempermainkannya… tapi kali ini muncul keberaniannya untuk melawan dan meringkus Friska. Irzan lebih besar dan kuat, jadi tidak sulit untuknya. Dia juga menemukan tali yang dipakainya mengikat kedua pergelangan tangan Friska ke ranjang.
“Sekarang kita main semauku,” kata Irzan dingin.
Dia menyingkap baju Friska, mengungkap sepasang payudaranya. Lalu dia sendiri memelorotkan celana dan memamerkan penis ereksinya di depan mata Friska yang melotot.
“Ayo Kak. Kakak suka kontolku kan?” suruh Irzan.
Dia merangsek maju, mencengkeram kepala Friska, dan memaksa Friska mengoral kemaluannya.
“Ah? Afhmmm!!” keluh Friska yang tiba-tiba mesti melahap rudal.
“Sekarang ayo isep kontolku! Enak kan Kak? Enak?” seru Irzan, puas.
“Ahpf! Nn!!” Mata Friska sampai berkaca-kaca karena kasarnya sodokan Irzan.
Tiba-tiba Friska merasa jari-jari Irzan merambah kemaluannya. Mereka berdua cukup sering nonton film porno bersama sehingga Irzan sekarang tahu berbagai macam aksi seks.
“Kakak dientot bibirnya kok memeknya basah? Suka ya dibegini’in?” tuduh Irzan.
“Kalau gitu pasti suka minum peju juga kan? HnghhH!!”
Penis Irzan meledak dalam mulut Friska, menyemburkan cairan peju. Sampai tumpah sebagian keluar, barulah Irzan menarik keluar kejantanannya dari sana.
“Ehh… Auh…” Friska mengambil nafas.
Tapi Irzan belum puas, dia melihat ada satu lagi tempat untuk melampiaskan nafsunya.
“Kak Friska,” kata Irzan,
“Yang di bawah itu pengen dimasukin juga ya?”
Dia menarik Friska supaya berposisi duduk lalu pindah ke belakang Friska. Dia sudah cukup sering disuruh-suruh Friska dan dia ingin membalas. Kini tangan kanannya merogoh ke selangkangan Friska dan mencubiti klitoris Friska. Tangan satunya lagi memegangi ikatan tangan Friska agar tak menghalangi.
“Kalau Kak Friska mau, ayo bilang. Bilang Kak Friska pengen.
“Oh! Ooh! Ihh!” Friska mengerang-erang keenakan karena klitorisnya dimainkan.
“Mauuhh… ihh… uhh…” pinta Friska.
“Bilang yang jelas… Yang keras!” perintah Irzan.
“Masukin… masukin kontolmu ke memek Kakak…” kata Friska.
Irzan langsung mendorong Friska sehingga berposisi nungging. Di belakang pantat yang menggoda itu Irzan menahan nafas, memegangi penisnya yang keras… Dia sudah cukup sering menonton di film, sekarang dia akan mencobanya sendiri. Zrepp…Irzan merasakan hangat basahnya liang kewanitaan Friska untuk pertama kali. Perempuan itu merintih-rintih ditusuk kejantanan Irzan dari belakang, dan Irzan memasukinya makin dalam sampai tak bisa maju lagi. Lalu dia mulai menggenjot.
“Ahn! Ah! Enak…!” Friska jelas-jelas menikmati perlakuan Irzan, biarpun sebenarnya dia dipaksa oleh Irzan. “Dalem banget… zan! Enakh…! Ah!”
“Kakak suka kan?! Ngentot sama aku enak kan!” kata Irzan dengan gemas sambil dia menancap-nancapkan senjatanya ke liang kenikmatan itu.
“Ahh! Iyaa! Suka! Suka kontol Irzaann!” Friska sudah menyerahkan tubuhnya untuk diapakan saja oleh teman adiknya itu. “Enak! Nghh! Aduh ga tahan! Mau… mauu…”
“AA~HHH!!” Jerit panjang Friska dan tubuhnya yang menegang karena orgasme lalu bergetar mengagetkan Irzan, yang kemudian kehilangan kendali juga dan ikut berorgasme di dalam vagina Friska.
“Hmm!” Friska yang bangkit lebih awal sesudah keduanya ambruk kelelahan, wajahnya terlihat ceria. Irzan bingung.
“Hihihi, nggak kira kamu bisa kasar juga akhirnya! Tau nggak, enak tuh dientot paksa kayak tadi. Pancinganku berhasil juga,” kata Friska. Irzan bengong.
Rupanya selama ini Friska memancing-mancing dia supaya dia tak tahan dan berbuat kelewatan.
“Kapan-kapan kamu harus bisa ganas seperti tadi ya Zan?” kata Friska sambil mencium pipi Irzan dengan genit.
Irzan cuma bisa melengos. Pada akhirnya dia tetap jadi mainan…




